Jumat, 22 Oktober 2010

untukmu sahabatku

Saat canda menghapuskan duka
Saat tawa mengubah wajah yang lara
Saat kebersamaan masih bisa kita rasakan
Dan saat semua masih dalam ingatan
Terbersit keinginan hati untuk merekamnya dalam sebuah tulisan

Lewat rangkaian bait yang telah tercipta
Bahkan melalui untaian peribahasa
Masih belum ada yang bisa
Menjadi pengganti se iya se kata

Hari memang mulai senja
Tapi kedekatan itu masih bisa kita rasa
Satu paragraph indah hampir kita selesaikan
Cerita singkat narasi pendek masa perkuliahan

Mungkin kita tidak bisa berkumpul enjoy seperti saat ini
Jarkom pun takkan pernah meramaikan bursa sms lagi
Perlahan-lahan istilah itu terhapus seketika
Hilang bersama derasnya aliran persaingan yang lebih nyata

Ya……
Emang itu sudah menjadi korelasi alam,,,
setiap pertemuan..
Haruslah berakhir dengan sebuah perpisahan…

Mungkin aku bukan teman bijak kamu
Yang selalu buat hatimu tersipu
Aku bukanlah insan ceria
Yang selalu buat bibirmu tertawa
Bukan pula tempat bersandar
Yang selalu berimu keteduhan

Tetapi……
Sebelum tangan mengakhiri jabat perpisahan
Sebelum mulut ucapkan selamat jalan
Izinkan aku mengirim senyum pada kalian…..
TERIMA KASIH kata yang ingin aku sampaikan


Kalian pernah mewarnai kehidupanku dengan bermacam nuansa
Suka, duka, sedih, dan tawa pernah kita jalani bersama
Tak ada keluh kesah yang terpendam begitu lama
Semua akan menjadi memory indah dalam dimensi semasa

Untukmu sahabatku,,,,,
Senyampang kesuksesan mulai terbentang
Sampai berjumpa di gerbang nan gemilang

Jumat, 08 Oktober 2010

JASAD ALAM YANG SEMAKIN RENTA…..

oleh Hamzah Guna Wijaya, 8 oktober 2010 :15.00

Mesranya sapaan kokok ayam di pagi hari
Sempat bangkitkan semangatku dari hati yang tak bernyali
Kicau burung selalu datang menggoda dengan latar senyum mentari

Seakan tak peduli membangunkanku yang lagi asyik bercumbu dengan mimpi
Tetesan embun pagi yang sejuk mengawali rutinitas penuh dahaga
Hamparan sawah nan hijau seakan menjadi penyempurna lukisan Sang Maha Esa
Keindahan alam yang begitu istimewa
Sulit tergambarkan lewat taburan kata
Ya itulah gemah ripah loh jinawi tanah airku Indonesia

Tapi dongeng masih tetap menjadi dongeng
Keindahan itu hanya bagian dari masa lalu
Yang selalu ditularkan pada anak dan cucu

Mereka hanya bisa mendengar cerita fatamorgana
Dan melihat tayangan berita yang benar dan fakta adanya
dari segala kecacatan alam bumi kita

Berita yang selalu menyuguhkan keadaan bumi yang semakin tua
Dan tak mampu menyangga jasad keindahan alam yang renta

Burung pun kembali berkicau
Dengan nada yang tak begitu jelas
Tak tahu apakah gerangan yang mereka kabarkan
Entah rintihan ataukah senandung kedamaian
Melihat pohon tumbuh megah berakar besi
Hamparan luas pabrik memproduksi polusi
Sahutan suara hewan berganti
Menjadi hingar bingar kendaraan yang tak begitu serasi

Panorama yang menjadikan bumi renta semakin tak berdaya…
Bahkan hampir mendekati kata parah…

Anomali perubahan cuaca yang tak pasti
Siang hari tampak dengan panas yang menjadi-jadi
Banjir kembali datang silih berganti
Lumpur dari perut sidoarjo terus muncrat tiada henti
Papua dikejutkan dengan ingatan pilu yang hampir lalai
Datangnya air mirip tragedi tsunami
Kota-kota seakan tak luput dari kejaran gempa bumi
Fenomena yang membuat hati ibu pertiwi menangis dan bersedih

Sabtu, 02 Oktober 2010

UMUR YANG TINGGAL 24 JAM

Oleh Hamzah Guna Wijaya, 02 oktober 2010: 11.00

Ya,,, semua memang tentang waktu
Rentang waktu itu yang selalu membuat kita lupa
Kalo kita semakin tua
Lupa kalo nikmat itu perlahan hilang
Diambil kembali oleh Sang Maha Kuasa
Entah tak tahu diri ataukah tak mau mengerti
Atas peringatan dan sabda ilahi
Seakan hari berjalan begitu saja
Tanpa ada beban sama sekali

Memang kematian bukan untuk ditakuti
Tapi kita takut jika kita tidak bisa mempersiapkan
Dengan persiapan sebaik-baiknya

Dulu waktu kita lahir,,,
kita menangis sekencang-kencangnya
Dan kita tak merasakan itu
Disaat kita menangis…
Senyum kebahagiaan, tawa keceriaan

Tampak terpancar pada poros wajah orang sekitar kita..
Karena kemunculan sosok imut nan menggemaskan

Tetapi……

Saat kita mati kelak,,,
Apakah senyum itu menempel pada bibir kita…
Dan tangis sedu sedih ganti terpancar pada orang-orang terdekat kita…
Tangis karena kehilangan orang yang mereka sayang..
Tangis karena tak lagi jumpa dengan sosok yang mereka kagumi…

Ataukah mala sebaliknya….

Kala usia telah tertutup
Apakah memory bayi kembali tergambarkan
Tapi dengan latar yang berbeda
Mati dengan bibir tanpa senyum
Bahkan hati yang menangis lebih kencang dari tangisan bayi baru lahir
Dengan wajah muram tersembunyi

Di tubuh yang kaku…
Sedang orang-orang tertawa dan suka cita….
Mereka pisah untuk selama-lamanya..
Dengan orang yang mereka benci…
Mereka senang tak akan jumpa dengan pembuat onar
……….
Semoga kita tidak tergolong dengan perumpamaan yang kedua

Tak tahu kapan kita mengakhiri history pendek narasi hidup
Tapi yang jelas….
Waktu kita tinggal 24 jam….
Entah pada 24 jam yang keberapa kita ucapkan salam perpisahan itu
24 jam esok,,,,
24 jam lusa….
Dari 24 jam itu pula kita tak tahu
Pada jam keberapa…
kita disambut mesra oleh belaian mesra Malaikat Izro’il
Karena itu sebuah rahasia…

Takut mati jangan hidup…
Takut hidup matilah saja…
Ungkapan yang sering aku dengar,,,
Dan ada satu pesan yang patut direnungkan,,,
Jangan pernah takut dengan kematian….
Tapi takutlah jikalau mati tak khusnul khotimah…

Semoga kita selalu siap dalam menyambut peristiwa itu…
Peristiwa yang bakal dihadapi setiap yang hidup
Sebagai penutup cerita skenario narasi dunia…..

Jumat, 24 September 2010

DIARY SANTRI


Oleh Hamzah Guna Wijaya, 23 september 2010: 18.40


Masih tampak jelas diingatanku
Kitab kuning yang selalu menemani langkahku
Dari safinatun najah sampai mabadiul fiqhiyah
Dari lembaran jurumiyah sampai bait alfiah
Qurrotul ‘uyun juga pernah singgah dikepala
Aku belum pernah melupakan memory itu
Memory 3 bahkan 9 tahun yang telah lalu
Kala segerombolan orang basah kuyup dengan air
Hanya untuk membangunkan dari tidur malam para santri
Yang selalu molor
Minimal untuk persiapan qiyamul laili
Saat para pencari ilmu itu berjajar
Hanya untuk mengantri ambil makan

Saat mereka duduk tertawa sambil menanti kosongnya kamar mandi
Saat senyum sedih melihat kawan kena hukuman
Hukuman gundul
Karena ketemu para ustadz,
Mereka sedang asyik memainkan sebatang rokok
Saat kamar penuh sesak hanya untuk menikmati jajan kiriman
Dari teman yang disambang

Yang selalu ku ingat,,,
Baju putih dipadu indah kopyah putih menjadi ciri khas
Melakukan rutinitas wajib tiap hari
Mengikuti pengajian pak kyai
Sambil menunggu ritual religi

Kajian rumit bahasa arab ilmu nahwu sorof
Yang menghiasi mushola sempit nan panas
Belajar kitab digubuk kayu yang belum rampung dikonstruksi

Tak kalah eratnya,,,
Tikus, kecoa, nyamuk menjadi sahabat karib
Ditiap malam mulai datang menyambut
Meski kesan jorok tak terurus selalu aku dengar
Jujur,,
Ini kawah candra dimuka sebagai tempat penggemblengan
Untuk menjadi gatotkaca yang tangguh
Gatotkaca yang survival
Gatotkaca yang selalu bisa bertahan dalam keadaan apa saja

Banyak ilmu yang aku dapat
Banyak pengalaman yang aku terima
Semua menjadi guru menuju kehidupan setingkat lebih nyata

“Kun rojulan rijlahu fi tsaroh wa himmatuhu himmatan fis suroyya”
Jadilah seorang pemuda yang kedua kakinya menapak di bumi
Tapi cita-citanya bergantung di bintang suroyya
Arti singkat dari lisan seorang alim ulama’
Dengan semangat khas yang ditularkan pada para santri kebanggaanya

Tak hanya itu aku dengar,,,
Masih banyak sejumlah semangat yang tertutur dan selalu ku ingat
Dan menjadikan tatapan mata kembali segar kala diri mulai hilang hasrat
Yang tak sempat aku rangkai ditiapan bait putih tulisan ini…

Terakhir pesan itu…
“Nak solat malam jangan pernah kau tinggalkan nak”
Pesan singkat sebagai bekal sampai saat ini

Aku akan berusaha untuk selalu mengingat
Mau’idoh tulus yang selalu kau tularkan pada kami
Aku yakin kami selalu ada dalam untaian do’a mu
Dan kami akan sesegera mungkin menjemput do’a itu

Engkau gembleng kami menjadi seorang santri
Terima kasih romo kyai

KATA CINTA MELALUI PENA

Oleh Hamzah Guna Wijaya, 21 september 2010: 21.30

Tiap tatapan mata mulai sayup
Ingin rasanya merebahkan punggung
Di lautan kapuk,,,

Tapi apa daya
Seakan malam ku kembali dicuri,,
Mimpi tak lagi mau kembali,,
Oleh siapa lagi
Kalau bukan titipan batin seorang dewi..

Ingin rasanya ku tulis keinginan hati ini,,
Hati yang terbuai oleh kelemahan mengungkapkan huruf
Yang mencoba menyusun diri menjadi rangkaian kata…
Bukan untuk siapa-siapa, bukan juga untukku,,
Hanya untuk seseorang,,
Seseorang yang buat hati jatuh dan mencinta

Tapi,,,
Kata itu hanya bisa terurai menjadi narasi,,
Narasi panjang yang abstrak
Yang tak akan pernah tampak menjadi jelas

karena mulut tak mampu berkarya
Biar semua keinginan itu tetap ku jaga
Bertahan dengan kata….
Yang duduk manis tersimpan direlung jiwa
Entah sampai kapan…
Perasaan itu mampir dan sesekali singgah..

Saat ini aku hanya mampu ungkapkan…
Lewat perwakilan tulisan
Diatas background putih nan kelam…

Ingin ku bisikkan bait yang nyata,,
Bahwa aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Bukan karena apa-apa,,
Hanya sebagai rasa syukur akan anugerah yang kuasa,,,


Rupunya benar perumpamaan yang sering aku dengar
seorang pujangga mengibaratkan hal itu…
Bagai kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu,
Bagai isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada
Dan…
Ibarat harapan yang tak sempat dikirim pasir pantai
Kepada gulungan ombak
Yang membuatnya hanyut tak berdaya

Biarkan itu menjadi warna pelangi kanvas hidupku
Bukan saatnya duduk termenung tersipu
Karena waktu juga tak bisa berhenti menunggu

Yang harus kulakukan saat ini adalah,,
Tegar menatap kedepan dengan hati tetap terbuka
Entah untuk siapa…
Yang datang dan kembali mengetuk hati
Dengan ketukan lembut penuh makna

Karena aku yakin,,,
Bahwa
Semua pasti datang tepat pada waktunya…
Terbungkus menjadi rahasia indah
Disinggahsana Sang Maha Kuasa

Thanks...