Kamis, 23 Mei 2013

BOCAH PENGAMEN BERSAUDARA

Udara sore itu lumayan sejuk, hujan yang satu jam lalu mengunjungi kota ini (sensor, hhehe), masih meninggalkan pesan sejuk untuk dapat dihirup. Udara sore ini benar-benar bersahabat, rasanya ingin cepat-cepat balik ke kos sekedar melepas penat hari itu. Satu hal yang membuat langkah kaki semakin berat diayunkan, karena perut ini sudah mulai bernyanyi lagu sendu, pertanda aku harus terlebih dahulu memenuhi undangan perut yang semakin lesu.

Ku tinggalkan beberapa pekerjaan yang sedikit belum kelar aku kerjakan, meskipun jadwal pulang kantor sudah lewat beberapa jam. Sudahlah, ku coba menjaga metabolisme asupan tubuh biar berjalan lebih teratur. Ku coba keluar dari ruangan kantor menuju pinggir jalan raya, sembari berharap ada orang jualan yang lewat didepan kantor. Kali aja ada tukang nasi goreng yang berseliweran kayak disurabaya. Agak lama aku menunggu nampaknya belum ada perjodohan yang dipertemukan dengan perut yang semakin keroncongan ini. Saat masih asyik berdiri diatas alas ketidakpastian, seorang kawan berteriak dari belakang mengagetkan lamunan ku menunggu abang tukang nasi.

"Ngapain lu brey,?" Tanyanya,

"Cari makan jeh, perut laper nih", jawab ku sambil meringis,

"Yaelah, jangan ditunggu bro, gak bakal ada yang lewat, udah kita cari makan diluar aja", timpalnya.

"Bolehlah, kita cari makan diluar, mau cari apa?" Kejar ku,

"Dingin gini, makan nasi sup ceker pedes manteb nih bro,".

"Cocok bro, lanjuuut," jawab ku gak pakai lama.

Minggu, 19 Mei 2013

BAHAGIA ITU???

Gembira, senang dan bahagia, 3 kata yang mungkin setiap orang memiliki penafsiran makna yang berbeda-beda. Sampai saat ini, sampai kalimat ini aku tulis, aku belum menemukan definisi dari ke 3 kata tersebut, sama halnya aku juga kesulitan mendefinisikan kata suka, kagum, sayang dan cinta. Yang aku yakini, definisi paling benar adalah yang berada dalam hati masing-masing orang. Setiap orang pastinya memiliki parameter yang tidak sama, pun untuk mewujudkan perasaan tersebut, setiap individu tidak serupa. Ada yang gembira saat mereka telah diwisuda, ada yang merasa senang karena orang yang dia cintai telah datang, ada yang bahagia saat apa yang menjadi keinginannya dapat terwujud dengan mudah dll dsb. Ada yang output dari kegembiraannya dia tertawa dengan lepas. Dan itu semua masih sah dan tidak ada pasal yang melarang tindakan tersebut. Kebahagiaan dan kegembiraan yang ia pancarkan tergantung momen yang ia rasakan.

Ada satu cerita terkait penilaian orang terhadap kata "bahagia" itu. Beberapa minggu lalu, saat baru saja aku menginjakkan kaki di salah satu kota di Sumatera Selatan (kota terjauh yang pernah aku singgahi), aku mendapat beberapa tawaran dari teman-teman untuk mencari "kebahagiaan" yang mereka perhalus dengan istilah "refreshing". Beberapa kawan mengatakan dipalembang tidak seperti di pulau jawa, surabaya, atau jakarta misalnya. Disini hanya ada 4 mall (kalau gak salah), dan dari sekian mall hanya ada 1 bioskop disalah satu mall itu. Saat beberapa minggu awal khususnya weekend sering aku mengikuti teman-teman ke mall, meski untuk sekedar makan, nongkrong dan nonton, bagi mereka "inilah satu-satunya tempat untuk melepas penat, satu-satunya tempat dari seluas tempat yang bisa bikin mata menjadi segar, yang bikin bibir tersenyum lebar, hanya itu dan hampir tiap minggu tempat inilah yang mereka tuju, woooow!!!"

Sabtu, 18 Mei 2013

RENUNGAN JALANAN

Aku terpesona, hatiku terkesima, mataku terpana, ketika harus menyaksikan ketabahan manusia dengan segala keterbatasannya, menghadapi dinginnya malam kota Surabaya.


Malam itu, 00.30 WIB, malam penghubung antar bulan (Juni-Juli), batas akhir bulan juni dan penanda awal juli, aku melakukan perjalanan. Perjalanan yang memang aku sengaja adanya. Dinginnya malam kota surabaya mulai menerobos masuk kedalam tulang sum-sum, melewati batas tebal jaket yang aku kenakan. Biar saja suhu yang dingin ini mengalihkan kesunyian batin dan fikiranku. Ku pacu saja Jupiter Z melawan udara malam. Aku sudah ada niatan melakukan apa, tapi belum ada niatan mau kemana. Tetap saja ku pacu motorku menyusuri tepian surabaya. Ada dua pemandangan yang terlihat sangat bertolak belakang, disaat aku melewati tengah kota, satu kutub menampilkan “kebahagian semu”, para muda-mudi yang menikmati malam, sekumpulan group motor yang berjajar memamerkan keindahan motornya, club malam bergemuruh berpacu dengan lentikan suara karaoke, mereka menghabiskan malam, meluapkan kejenuhan dengan mencari kebahagiaannya masing-masing. Satu kutub yang lain menampilkan magnet yang berbeda, mereka yang berada dipinggiran jalan, bergerombol dan hanya mampu memamerkan keindahan becak dan gerobaknya, seorang wanita paruh baya tetap setia terjaga didalam lapak dagangannya. Apa mungkin setiap hari mereka menghabiskan malam diatas becaknya, terlelap ditimang mimpi. Mereka tertidur nyenyak dengan “ac” alami yang mereka andalkan. Mereka berbaring seperti itu sepanjang sisa malam, menanti cahaya fajar yang membelah keheningan rembulan. Mungkin kesederhanaan becak dan lapak itulah, satu-satunya tempat curhat dan memelihara harapan. Ku susuri juga beberapa tempat pembuangan sampah. Tengah malam pun ada saja yang masih beraktifitas memilah-milah buangan limbah. Tak bisa aku berbuat apa-apa, atau minimal berkata-kata. Lelahku secuilpun tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ketabahan mereka. Aku berjalan dengan membawa “bekal materi” yang sengaja aku sediakan buat sebagian dari mereka, Cuma beberapa orang dari sekian banyak orang yang aku jumpai. Yaa sebagian saja, maaf, memang aku belum mampu membagikan “bekal” buat semua yang aku temui, karena tak bakal cukup bekal itu aku berikan kepada mereka.

Seorang pria yang sudah pantas menyandang gelar “kakek”, memunguti sampah kertas dipinggir jalan, Dia bekerja di tengah keremangan malam. Mengumpulkan “Rezeki” di sepanjang jalan yang dilalui. Kertas yang sudah dikumpulkan, diikat dan diletakkan diatas becaknya yang sederhana. Aku terguncang batinku mengambang, Aku hanya bisa membatin, sudah tidak seharusnya seorang kakek yang cukup tua bekerja seperti itu, tapi bagaimana lagi jika keadaan yang memaksa. Dari gerak langkahnya, aku bisa menyimpulkan bahwa dia bukanlah kakek yang cengeng dan melankolis,

KAWAN DAN MASA LALU

Wahai kawan, inginku berbagi cerita kepada kamu semua,

Layaknya dulu kita tertawa-tawa bahagia melepas susah.
Aku bercerita, kau dengarkan dengan seksama,
Sesekali kau menimpali dengan ocehan khas Jawa Timuran, yang lazim kita sebut dengan "gojlokan".
Begitu juga sebaliknya, saat kau yang bercerita,
Aku mendengarkan dengan ceria,
Meskipun kenyataannya aku hanya berpura-pura.
Aaah tapi itu pun tidak menjadi masalah,
Toh obrolan itu masih bernuansa mesra.

Wahai kawan,
Inginku berbagi nostalgia
Kepada kamu semua, tentang apa saja, semuanya,
Yang dengan sengaja maupun tidak, pernah kita torehkan bersama-sama.

Wahai teman,
Ingin rasanya aku berkumpul dengan kalian semua,
Kembali bersama, menjalani aktifitas, melewati tikungan waktu dan masa,
Meskipun hanya beberapa saat saja,
Sekedar untuk mengobati rasa penat yang melanda.

Senin, 29 April 2013

PERJODOHAN SEDEKAH & BALASAN KEBAIKANNYA

       "Tidak ada sebuah pertemuan yang terjadi tanpa izin Tuhan, Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi tanpa skenario dan campur tangan Tuhan, sekecil apapun suatu adegan yang kita perankan, tidak mampu kita perhitungkan sebelumya". Entah Kebaikan ataupun keburukan, baik musibah ataupun anugerah, dan apapun saja yang kita temui atau yang kita hadapi pasti ada hikmah yang bisa kita tadabburi. Sedikit diberi musibah, kita langsung su’udzon kepada Tuhan, sedikit diberi kesulitan, kita langsung menagih kedermawanan Tuhan, Jangan terburu-buru memberi nilai, jangan tergesa-gesa menyimpulkan, pelajari dulu, fahami dulu, Tuhan pasti memiliki banyak cara untuk mengajarkan kebijaksanaan kepada hambanya. Seperti tulisan ini, kenapa saya beri judul “Perjodohan Sedekah”, maksudnya bagaimana?, Sebelum kita bahas panjang lebar mengenai maksud dan contoh kongkritnya, alangkah baiknya kita bahas satu persatu, agar kita berada pada nuansa mainstream yang sama.




1. Jodoh Universal
         Pernah belanja ke pasar tradisional? Atau bagi orang Surabaya pernah beli sepatu di pasar blauran? Atau begini, anda pasti pernah beli Laptop, Peralatan elektronik, atau computer di HI Tech mall? Handphon lah, anda pasti pindah dari satu toko ke toko lain untuk mencari-cari handphone yang ingin anda miliki? Saya rasa salah satu aktifitas tersebut pernah anda alami. Bagaimana anda memilih Laptop A, atau HP A ditoko X, padahal Type HP atau laptop yang sama juga ada ditoko Y. Masalah harga? Bisa jadi, atau meski harga sama anda tetap memilih di toko X ? itu terkadang tidak mampu kita jelaskan dengan kata-kata, pun tak mampu dideskripsikan dengan tulisan-tulisan. “ya ndak ngerti, pokoknya lebih Sreg aja beli disini”, mungkin itu jawaban yang sering kita munculkan. Kesesuaian dengan hati, apakah itu bukan perjodohan. Satu lagi contoh, kalau misalnya kita beli sepatu di blauran atau toko-toko didaerah lain yang model penyebaran tokonya sama seperti di blauran Surabaya. Berpuluh-puluh toko sepatu berjajar tanpa jarak. Saat kita berjalan kenapa kita berhenti pada Toko X, padahal secara type, model, harga sama dengan toko Y maupun ditoko Z? fenomena tersebut lebih sering sulit kita jelaskan, hanya kesesuaian hati dan pikiran yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal ini bisa berlaku dalam segala laku aktifitas yang kita jalani. Sopir angkot sebutlah demikian, suatu waktu pada jam dan detik tertentu melaju di depan sebuah gang, lantas ada yang melambaikan tangan, bisakah adegan tersebut diterka-terka sebelumnya oleh si sopir angkot, atau bisakah kita mencoba mengutak-atik dan memperhitungkan pusat pertemuan itu?, meski adegan sederhana, saya rasa itu adalah faktor perjodohan yang tidak bisa kita prediksikan, faktor perjodohan yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Saya ulangi lagi kalimat pada baris pertama tulisan ini, ”Tidak ada sebuah pertemuan yang terjadi tanpa izin Tuhan, Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi tanpa skenario dan campur tangan Tuhan, sekecil apapun suatu adegan yang kita perankan tidak mampu kita perhitungkan sebelumya”. Perjodohan tidak melulu kita dipertemukan dengan belahan jiwa atau pemegang tulang rusuk kita. Itu adalah sebagian bentuk perjodohan yang di takdirkan Tuhan, lantas kita kira segala pertemuan dan adegan bukan perjodohan yang telah teratur juga?.

Satu lagi masalah pekerjaan misalnya, bagi sebagian kita yang telah berusaha melamar kerja dan menjemput nafkah, kita masukkan surat lamaran pada beberapa perusahaan, kita kirim email ke Perusahaan ini ke Perusahaan itu, kesana dan kemari, orang bisa menyebutnya gambling, siapa tau luput yang ini dapet yang itu. Gambling itu yaa kalau boleh dibahasakan, sederhananya adalah perjodohan yang belum dipertemukan, dan kita punya effort yang besar dan berusaha untuk menemukan. Kita datang diundang interview di Perusahaan ini dan itu, tapi ternyata adakalanya kita yang kurang mantap untuk melanjutkan tanda tangan kontrak, ada juga perusahaannya yang belum menerima spesifikasi individu kita, siapa yang bisa menyangka? Siapa yang bisa mengira? Alih-alih kita sudah yakin bisa diterima, eh ternyata ada yang kurang memenuhi syarat perusahaan, atau klasifikasi kemampuan kita cukup tinggi dibandingkan yang diminta perusahaan. Di kesempatan yang lain, ternyata kita dipanggil oleh perusahaan A, untuk menjalani tes spesifikasi, dan pada akhirnya kita diterima, hal ini siapa juga yang bisa mengidentifikasinya? Bukankah hal ini juga perjodohan kita dengan perusahaan?. Setali tiga uang, Bisnis misalnya, ada orang yang pertama kali nyoba bisnis A ternyata menghadapi kesulitan, terus ia usahakan sambil nyari bisnis lain, ketemulah bisnis B, tanpa disangka dan tanpa di nyana, lebih cepatlah perkembangan bisnis B ini. Seiring berjalannya waktu bisnis inilah yang menjadi besar, dan berkembang pesat, bukankah ini juga perjodohan kita dengan bisnis?.

Banyak hal yang bisa kita fahami, banyak pelajaran yang bisa kita renungi, banyak kasus yang dapat kita ambil ilmunya. Tuhan menggelarkan semua kejadian untuk kita cari maknanya, untuk kita aplikasikan kebaikan-kebaikannya, untuk bisa kita resapi kebijaksanaannya. Perjodohan dengan apapun yang Tuhan berikan, hanya satu kunci kebahagiaanya, yaitu syukuri yang telah kita dapati. Tentu satu hal yang perlu difahami adalah, tidak serta merta Tuhan mempertemukan apapun saja dihadapan kita, tanpa kita terlebih dahulu mengusahakannya. Saat kita diperjodohkan sementara dengan kesusahan, mengertilah dengan nurani, bahwa Tuhan masih mau menguji kita, bayangkan jika Tuhan sudah cuek dengan kita,? Saat kita dijodohkan dengan musibah, fahamilh dengan budi pekerti, bahwa semua dari Allah dan akan kembali kepada Allah, “innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun”. Selalu berkhusnudzon, insya allah kita terhindar dari kebuntuan-kebuntuan, terlepas dari cengkraman kegalauan-kegaluan yang seharusnya tidak kita harapkan. Yakin saja, Tuhan akan menjawab keyakinan kita, Kata Allah dalam Hadits qudsy nya “ana ‘indza dhonni ‘abdiiby” Aku (kata allah) bersama dengan keyakinan hambku, kalau kita pesimis, kepesimisan itulah yang akan kita dapati, kalau kita optimis dan berusaha mewujudkan rasa optimis itu, yakinlah, jalan kemudahan pasti mengiringi.


2. Perjodohan Sedekah
     Semoga panjang lebar penggambaran diatas mampu mensketsa tingkat pemahaman kita tentang perjodohan itu sendiri. Sekarang aku ingin menulis tentang perjodohan sedekah. Tidak hanya aktifitas individu yang diperjodohkan, aktifitas sosial religi seperti sedekah pun Tuhan menjodohkan kita. Perjodohan itu tentu melingkupi dimensi ruang dan waktu. Mungkin anda pernah punya niatan ingin sedekah saat ada sedikit rezeki, tapi entah karena aktifitas yang terlalu padat, sehingga rasanya tak ada waktu untuk sekedar membagi sedekah. Contoh lain niatan sudah ada, tapi saat kita cari-cari untuk yang bisa kita kasih sedekah terkadang tidak ketemu-ketemu, atau malah ada yang punya lebih rezeki yang notabennya itu bukan milik kita, harta orang lain, kita malah tidak terfikirkan untuk mensedekahkan sebagai bentuk pensucian harta yang kita punya. Atau saat ada niatan ingin sedekah, eh ternyata ada seseorang yang dating yang membutuhkan bantuan materi misalnya. Atau kita ada donasi untuk dibagikan, teman bercerita bahwa tetangganya ada yang lagi dalam kesulitan. Sedekah atau berbagi apa saja bisa karena kita merasa, melihat atau mendengar. Merasa perlu dibantu maka kita bantu, kita melihat ketidakberdayaan dan kita mampu menolang, usahakan untuk menolong, terakhir, meski hanya kita mendengar dari cerita teman, tetapi teman itu tak mampu mambantu, saat itu juga kita bisa bantu, kenapa hanya berpangku tangan, lepaslah tangan, bantulah yang kesusahan.

Thanks...