
"in, piye bangbangwetan, tema ne opo"? tanyaku pada si Daroin, Santri Amanatul Ummah yang malam itu sudah terlebih dahulu hadir di Forum Pencerahan bangbangwetan. "Tema nya, Wani Ora Usum". Beh apalagi diskusi yang diangkat dalam forum yang aneh ini, pikirku saat itu. Ya, Bangbangwetan adalah salah satu forum yang aneh, bagaimana tidak, forum ini dilakukan satu bulan sekali disurabaya, diskusinya juga dilakukan mulai ba'da isya' sampai sekitar jam 3 pagi, Nah lho, lak yo aneh seh, waktunya orang tidur ini malah cangkrukan sampai pagi menjelang. Tapi, bagiku tidak ada masalah sedikitpun, karena aku merasa cukup enjoy. Bangbangwetan menyuguhkan hampir semua pendekatan keilmuan, ya bahasan sosial, keagamaan, politik, budaya, ekonomi, seni, science dsb yang dikemas melalui obrolan berparodi, guyonan yang cukup mencair dan kemesraan yang sangat hangat. Ini adalah salah satu moment yang selalu saya tunggu, salah satu. Ditengah gempuran aktifitas pekerjaan yang cukup rapat, Sekali dalam sebulan, sudah bisa mengobati kerinduanku terhadap keilmuan-keilmuan yang nyeleneh.
"WANI ORA USUM", maksudnya gimana? kalau orang jawa, khususnya Jawa Timur sudah pasti tau maknanya. Tapi mentransformasikan bahasa jawa ke bahasa indonesia, bukanlah pekerjaan yang gampang, terlampau kaya kosa kata Jawa yang tidak ada penjelasan atau kiasan maknanya dalam ruang lingkup Bahasa Indonesia. Tapi baiklah, pelan-pelan kita masuk kedalam penggambaran makna yang cukup sederhana. "Berani keluar dari kebiasaan pada umumnya", mungkin itulah yang mendekati artinya. Sudah tentu keluarnya kebiasaan ini, dari yang buruk atau yang kurang maksimal berontak menuju kebiasaan yang baik dan lebih bermakna. Ketika yang lain hanya mau melakukan sesuatu dengan resiko pekerjaan yang kecil, beranilah untuk mengambil resiko pekerjaan yang besar, tentu dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang dan masuk akal. Karena pada dasarnya resiko itu berbanding lurus dengan sebuah hasil pencapaian. Kalau seorang pejabat, konsep wani ora usum ini bisa diaktualisasikan dilingkungan birokrasinya. Jika lingkungan sekitarnya USUM E (kebiasaannya) korupsi, maka wanilah (beranilah) untuk tidak korupsi. Bagi seorang pekerja konsep wani ora usum e itu, ketika terdapat kebiasaan yang satu saling mengalahkan yang lain, satu orang saling menjelek-jelekkan yang lain demi sebuah tingkatan jabatan dan prestasi, beranilah keluar dari kebiasaan itu. Carilah Apresiasi dengan sebuah prestasi, tanpa harus memfitnah sana dan sini, tanpa harus menjatuhkan samping kanan dan kiri. Mengubah kebiasaan dan budaya memang tidak mudah, sangat sulit tapi bukan berarti tidak mungkin. Karena hanya Ada satu hal yang tidak mungkin didunia ini, yaitu sesuatu yang belum pernah dicoba.



