Sabtu, 17 Desember 2011

Sepuluh Fakta Konyol

1. Kertas terbuat dari kayu, belajar membutuhkan bnyk kertas (baca: buku). Jadi, dengan tidak belajar berarti kita telah mendukung gerakan Go Green!
2. Menjadi perokok pasif lebih berbahaya dari perokok aktif, oleh karena itu marilah kita aktif merokok !
3. Makan sayur bikin kurus? Coba kalian bandingkan kuda nil yang vegetarian dan macan yang karnivora. Mana yg lebih kurus?
4. Makan makanan kotor bikin diare? Tapi saya belum pernah dengar ada lalat yang mencret.

Sifat Bahan HCl, CH3COOH, Sorbitol, Gliserol

Asam Klorida
Asam Klorida berwarna jernih, berbau dan memiliki densitas 1,096 g/cm³. HCl bersifat korosif terhadap membran mukosa, esophagus, dan membran perut. HCl akan memberikan warna kuning pada besi atau senyawa organik lain (windholtz 1983). Asam klorida merupakan senyawa anorganik dengan bau tajam dan tak berwarna. Asam klorida sangat larut dalam pelarut air dengan membentuk larutan asam kuat. Titik lelehnya -0,41oC, titik didih 110 °C (383 K) pada larutan 20,2% dan 48 °C (321 K) pada larutan 48% (Mulyono, 2006).

Asam Asetat (CH3COOH)
Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, Mempunyai rumus empiris C2H4O2. Mempunyai densitas 1,049 gr/ml dan titik didih 1180 dengan Ka = 1,8 x 10-5 Asam asetat sangat korosif terhadap jaringan yang dapat menuyebabkan muntah, pusing, pingsan dan lain-lain.

INSTRUMEN TGA

Thermo- Gravimetric Analysis (TGA)
Analisis termal dalam pengertian luas adalah pengukuran sifat kimia fisika bahan sebagai fungsi suhu. Penetapan dengan metode ini dapat memberikan informasi pada kesempurnaan kristal, polimorfisma, titik lebur, sublimasi, transisi kaca, dedrasi, penguapan, pirolisis, interaksi padat-padat dan kemurnian. Data semacam ini berguna untuk karakterisasi senyawa yang memandang kesesuaian, stabilitas, kemasan dan pengawasan kualitas. Pengukuran dalam analisis termal meliputi suhu transisi, termogravimetri dan analisis cemaran. Teknik-teknik yang mencakup dalam metode analisis termal antar lain, Thermal Mechanical Analysis (TMA), Differential Scanning Calorimetry (DSC) dan Thermal Gravimetric Analysis (TGA). Data yang di peroleh dari masing-masing teknik tersebut digunakan untuk memplot secara kontiyu dalam bentuk kurva yang dapat disetarakan dengan suatu spektrum yang dikenal dengan sebagai termogram (Martianingsih, 2010).

INSTRUMEN FTIR

FTIR.....
Instrumen yang digunakan untuk mengukur resapan radiasi infra merah pada berbagai panjang gelombang disebut spektrofometer infra merah (Fessenden F, 1997). Bila sinar infra merah dilewatkan melalui cuplikan senyawa organik, maka sejumlah frekuensi diserap sedangkan frekuensi yang lain diteruskan atau ditransmisikan tanpa diserap. Molekul-molekul alkana hanya menyerap sinar infra merah pada frekuensi tertentu jika di dalam molekul ada transisi tenaga yaitu sebesar (Delta E = hv). Transisi yang terjadi di dalam serapan infra merah berkaitan dengan perubahan-perubahan vibrasi di dalam molekul. Itulah sebabnya spektroskopi infra merah merupakan spektroskopi vibrasi. Ikatan-ikatan yang berbeda (C-C, C=C, C=-C, C-O, C=O, O-H, N-H, dsb) mempunyai frekuensi vibrasi yang berbeda dan kita dapat mendeteksi adanya ikatan-ikatan tersebut dalam molekul organik dengan mengidentifikasi frekuensi-frekuensi karakteristiknya sebagai pita serapan dalam spektrum infra merah (Sastrohamidjojo, 1991).

Sabtu, 26 November 2011

“Hasil Negatif masih Lebih Baik, daripada tak Satu pun yang Positif”

Hufth, setelah sekian lama vakum dari dunia tulis menulis, akhirnya kemalasan untuk menulis pun bisa kuusir dengan judul yang kusampaikan diatas. Ok! langsung saja kita mulai,,,,, gambar di ambil dari
http://www.macfamous.com/wp-content/uploads/2009/12/Peluang-Usaha-Ahasu-Gnaulep.jpg
Kalau kita berbicara masalah “hasil”, pemahaman kita akan digiring pada satu kesatuan sistem yang berjalan (Sistem yang dimaksud disini adalah sistem kehidupan). Sebelum mengacu pada “hasil” sistem, kita pasti melewati jalan berliku yang dinamai dengan “proses”. Toh proses juga butuh yang namanya “permulaan”. Jadi kita tidak bisa berbicara banyak tentang “hasil” tanpa mengkaji terlebih dahulu tentang “proses” dan “permulaan”. Sederhananya, Kalau pingin hasil yang baik maka berproseslah yang baik, kalau pingin hasil yang buruk banyak cara memperlakukan kehidupan ini dengan perilaku yang buruk pula. Intinya adalah,

Thanks...