Ada satu hal yang tidak akan mungkin terjadi di dunia ini, yaitu "Sesuatu yang belum pernah dicoba",Semoga Bermanfaat....
Jumat, 19 Agustus 2011
Bersahabat Dengan Alang-alang
Saat ini anak-anak jalanan sering menjadi sasaran empuk bagi aparat, atas nama “ketertiban kota”, karena mereka dianggap mengganggu kenyamanan dan ketentraman masyarakat. Anggapan ini seakan menjadi karakteristik terhadap eksistensi anak jalanan. Ada atau tidak adanya mereka, seakan tidak memiliki dampak besar terhadap rantai tatanan sosial ekonomi kemasyarakatan.
Dan masih teramat banyak anggapan-anggapan miring lainnya, mungkin ibarat sebuah “alang-alang” yang dianggap seperti sesuatu yang tidak ada manfaatnya dan mengganggu pemandangan saja. Tetapi berbeda lagi jika “hati nurani dan kepedulian” yang menilai, satu sisi kehidupan yang terlupakan akan dimunculkan dengan begitu adil.
Alang-alang juga memiliki sisi yang harus dikaji lebih detail lagi untuk mengetahaui betapa “ia” juga punya manfaat.Terlepas dari mereka yang hanya menggantungkan diri ditengah panasnya jalanan kota, mereka juga anak-anak dari bangsa Indonesia yang juga butuh ketenangan, kebahagian, ketentraman, serta keadilan yang merata seperti halnya anak-anak Indonesia lainnya.Keadaan dan keterpaksaan lah yang membuat mereka belum merasakan kemerdekaan.
Kamis, 18 Agustus 2011
Rabu, 20 Juli 2011
ANTARA IKLAN LA LIGHT, DAN KETIDAKSIAPAN MENTAL
Tidak dipungkiri suatu saat kehidupan kita berada pada titik yang paling sulit yang tidak pernah kita harapkan. Keadaan yang membuat kita seakan - akan hampir putus asa dan tak punya daya apa-apa untuk membuat sebuah karya. Banyak faktor yang punya andil untuk mengirimkan situasi berat seperti itu. Mungkin saja akibat ketidakharmonisan hubungan antara pikiran sebagai parameter logika VS hati sebagai parameter perasaan, pikiran pingin A tapi hati pingin B,atau beban target yang harus kita capai, serta kesalahan-kesalahan yang telah kita produksi sendiri, dan masih banyak faktor yang lain lagi. Tetapi sejauh yang saya simpulkan, faktor utama yang menyebabkan keadaan tersebut adalah “ketidaksiapan mental” dalam menghadapi kenyataan yang ada. Kenapa ketidaksiapan mental??? Karena mental dibentuk untuk ditempa dan dikuatkan dalam menghadapi situasi yang terjadi. Apapun hasilnya, bagaimanapun situasi dan keadaannya, kalau mental kita sudah siap, kita akan menerima dan menikmati keadaan itu dengan enjoy. Kita sering terjebak oleh target yang sangat abstrak, sehingga saat target yang kita inginkan hampir kita dapatkan, kita sangat antusias untuk lebih semangat mengejarnya. Tetapi, dilain sisi ada sesuatu yang lebih menjanjikan untuk didapatkan, seakan-akan target awal tadi sudah tidak lagi menarik untuk dikejar. Sehingga orientasi awal kita berubah seiring perubahan mood, perasaan, logika, dan psikologi yang mengelilingi kita. Hal seperti itu akan selalu terjadi jika kita tidak memiliki target reaksi yang jelas. Sehingga target awal tidak didapat, target lain tidak didapat dan kita kehilangan satu persatu apa yang kita harapkan. Itulah diawal tadi yang aku istilahkan dengan “ketidaksiapan mental”.
Selasa, 31 Mei 2011
Yang Paling...... adalah.......
PESAN BIJAK IMAM GHOZALI KEPADA MURIDNYA
Ini adalah kisah seorang Ulama’ besar nan terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf yang sedang berdialog dengan murid nya. Nama ulama’ tersebut seharusnya tidak asing lagi di telinga para kaum muslimin dunia. Beliau adalah Imam Ghozali.
Cerita ini aku dapatkan ketika aku tak sengaja mendengarkan sebuah ceramah agama di salah satu setasiun televisi swasta. Sebuah dialog guru bijaksana dengan muridnya.
kurang lebih inilah pembicaraan tersebut:
Sang guru memulai pembicaraan dengan menanyakan sesuatu pada muridnya,
Imam Ghozali: “menurut kalian apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?, tanya sang Guru
Murid: Sang murid menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda, ada yang menjawab orang tua, guru, sahabat, keluarga dsb.
Ini adalah kisah seorang Ulama’ besar nan terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf yang sedang berdialog dengan murid nya. Nama ulama’ tersebut seharusnya tidak asing lagi di telinga para kaum muslimin dunia. Beliau adalah Imam Ghozali.
Cerita ini aku dapatkan ketika aku tak sengaja mendengarkan sebuah ceramah agama di salah satu setasiun televisi swasta. Sebuah dialog guru bijaksana dengan muridnya.
kurang lebih inilah pembicaraan tersebut:
Sang guru memulai pembicaraan dengan menanyakan sesuatu pada muridnya,
Imam Ghozali: “menurut kalian apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?, tanya sang Guru
Murid: Sang murid menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda, ada yang menjawab orang tua, guru, sahabat, keluarga dsb.
Langganan:
Postingan (Atom)