Rabu, 15 September 2010

biarkan semua jadi kesempatan

Hidup memang tak tentu…
Kadang enak, kadang susah..
Kadang senang, tak jarang pula sedih melanda..
Kadang hitam, diri pun pernah menjadi putih..
Kadang manis, pahit getir juga pernah dirasa,,,

Tapi, hidup itu indah dan penuh anugrah..
Ketidak pastian dan ketidak tentuan itu,,
Semua adalah hiasan,,
Hiasan dalam satu bingkai perjalanan sejarah manusia..
Menjadi rajutan benang alam tingkah manusia..

Diri tak kuasa membayangkan jika hidup selalu indah,
Andai hidup bergelimang harta,
Bila hidup melulu susah,
Dan pabila hidup penuh dengan siksa…


Tuhan begitu adil,
Tapi sering kita lalai akan keadilan yang telah diberikan..
Dari sini kita dianjurkan untuk belajar,
Belajar membaca dan menerjemahkan sabda…
Segala yang diberikan tidak datang dengan percuma,,
Semua pasti ada anugrah,,
Meski itu berupa musibah,,,
Ini kesempatan yang telah diberikan tuhan..
Titah agung Yang Maha Kuasa…

Biarkan diri sejenak berfikir,
Karena berfikir,
Memberi kesempatan untuk mendapat sumber kekuatan..
Biarkan diri luang sebentar untuk membaca,,
Karena memberi kesempatan bersikap bijaksana..
Biarkan diri santai bermain dan canda tawa,,
Karena memberi kesempatan untuk awet muda…
Dengan berbagai alunan musik indah dalam jiwa..
Biarkan diri tertunduk diam,,,
Karena memberi kesempatan berdialog dengan Sang Kuasa..
Biarkan diri bertindak peduli,,
Karena memberi kesempatan untuk berinteraksi dengan sesama..
Biarkan diri melamun dan berkhayal,,
Karena memberi kesempatan membaca masa depan yang cemerlang..
Biarkan diri bersimpuh tertunduk berdo’a,,
Karena do’a memberi kesempatan untuk menjemput kekuatan,,
Kekuatan terbesar yang diberikan Tuhan,,
Kekuatan untuk mengarungi perjalanan bahtera kehidupan…

Semua kan berujung bahagia,,,
Tatkala kita selalu pasrah pada kehendak yang kuasa..
Karena pasrah bukanlah menyerah,,,
Dan selalu baik sangka atas segala kesempatan yang ada..

Senin, 06 September 2010

TUHANKU BUKAN YANG DI ATAS

Oleh Hamzah guna wijaya, selasa 07 september 2010 jam 12.00

Saat cahaya matahari datang bersama dengan tetesan embun pagi….
Saat itu pula nikmatmu masih engkau berikan….
Nikmat melihat pemandangan indah alam ciptaanmu….
Nikmat berdiri diatas bumi gemah ripah loh jinawi milikmu….
Nikmat bertahan di bawah langit luasmu…..
Langit yang menunjukkan secuil ke agungan dan keesaanmu…
Langit yang terhampar luas tanpa disanggah satupun tiang menancap dibumi…
Dan nikmat tiada tara, ,
Engkau masih memperpanjang SIM ku ( Surat Izin Menghirup udara)..

Tapi, sering kenikmatan itu melalaikanku pada kuasa dan eksistensimu…..
Aku tau engkau ada tapi tak terlihat,,,
Aku tahu engkau ada dan kau melihat…
Karena kau Maha Mengetahui, kau Maha Melihat,
Dan kau Maha segala-galanya,,,,

Kau melihat segala-galanya, dan tahu semua yang ada dimana-mana,,,
Tuhan Kau sungguh dekat,,,
Karena keberadaanmu bukan “diatas”,,,,
Seperti banyak orang berkata,,
Banyak insan coba menggambarkan posisimu…
“takdir apa kata yang diatas”
“ semua kehendak yang diatas”
“kehidupan kita sudah di gariskan yang diatas”,,,
Siapa yang mereka maksud???
“siapa yang berada di atas”….
“di atas mana”,, ditempat yang tak jelas…

Sungguh engkau berada tak jauh dari kita,,,
Engkau Maha segalanya, dan sangat dekat dengan makhluk yang kau cipta…
Sungguh dekatnya, jeritan, harapan, dan do’a yang terpanjat dalam hati pun,
Engkau dapat mendengarnya bahkan kau langsung menjawabnya,,,,,,
Dengan jawaban yang nyata….




Karena engkau bukan “diatas”, seperti yang mereka katakan…
Tapi engkau telah memberi tahu pada kita semua,,,
kalau engkau sangat, amat dan begitu dekat…
bahkan lebih dekat dari urat nadi kita…
itulah informasi yang kau tautkan pada tinta abadi kitab suci…..

“Allah itu dekat dan bahkan lebih dekat dari urat nadi kita”…..

Selasa, 13 Juli 2010

GONJANG-GANJING ATLET POSPENAS V NON SANTRI

Pekan olahraga dan seni pondok pesantren nasional (POSPENAS) sudah seharusnya dan sudah selayaknya diramaikan oleh santriwan-santriwati yang “mondok” dan menempuh pendidikan di sebuah pesantren. Akan tetapi realita yang tampak saat ini bukan realita yang wajar, ketika beberapa atlet ikut nimbrung dalam perhelatan khusus santri tersebut. Atlet yang ikut berperan bukan sembarang atlet tetapi atlet dengan seabreg pengalaman dan telah malang melintang diberbagai event daerah maupun event nasional. Sungguh sangat disayangkan ketika tujuan pemerintah dan instansi terkait saling bekerja sama memberikan fasilitas memadai terhadap eksistensi dunia kepesantrenan baik bidang olahraga dan seni tidak dapat diterima dan dikelola dengan baik oleh oknum-oknum yang kurang bertanggungjawab, sehingga wahana dan sarana yang diberikan tidak dapat dinikmati dengan baik oleh santri tulen pondok pesantren.
Atlet “bon-bonan” mungkin itulah istilah yang senter terdengar selama POSPENAS V dilaksanakan dan berakhir pada 11 juli 2010, perhelatan itu bukan dijadikan ajang berlomba-lomba memunculkan atlet berprestasi dari latar belakang santri tapi malah dijadikan untuk mendapat atlet bon-bonan yang berkualitas dan memperoleh kemenangan untuk daerahnya.
Isu tersebut sebenarnya sudah ramai dibicarakan sebelum POSPENAS ini dilaksanakan di Jawa Timur, tepatnya pada pelaksanaan POSPEDA (pecan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren Daerah), atlet bon-bonan tersebut hamper menghiasi berbagai event perlombaan, hal ini sungguh sangat naïf melihat tujuan yang mulia bagi para penunutut ilmu di pesantren. Harapan santriwan-santriwati dapat berkompetisi secara fair dan muncul bibit-bibit unggul dari latar belakang santri ternodai oleh realita yang tidak mengenakkan. Harapan para santri untuk bisa berkompetisi, belajar dan mendapat pengalaman terkikis oleh even tersebut. Berdasarkan pengalaman pada perhelatan POSPEDA belum ada langkah khusus terkait dengan pemain non santri. POSPEDA sebenarnya diadakan untuk menyeleksi santri-santri berkualitas yang akan ditarungkan pada perhelatan POSPENAS tapi apa daya, karena kasus pemain “bon-bonan” tidak ada tindak lanjut sehingga keadaan seperti itu terbawa pada POSPENAS. Meski kenyataan tersebut mengundang kontroversial tetap saja belum ada langkah kongkrit yang terlihat untuk memperbaiki system itu. Sebut saja persyaratan tentang umur maksimal, pada saat itu umur dibatasi pada kisaran maksimal 17 thn. Tetapi salah seorang teman memergoki salah seorang pemain dari kalangan ustadz yang berumur >25 thn, dan tidak hanya cabang olahraga bulu tangkis saja masih banyak cabor-cabor lain yang diperankan oleh atlet nonsantri.
Kasus lain adalah tentang Kartu Identitas Santri (KIS), setiap atlet yang berlaga harus menunjukkan identitasnya sebagai seorang santri tapi kenyataan itu tidak nampak sama sekali pada saat registrasi dilaksanakan, dan saat beberapa atlet ditanya tentang pesantren yang merekomendasikan dengan ragu dan tidak yakin menjawabnya. Sehingga muncul tanda tanya besar dibenak beberapa teman-teman santri mana mungkin seorang santri lupa nama pesantrennya, sungguh sangat aneh.
Harapan untuk POSPEDA maupun POSPENAS kedepannya harus ada seleksi lebih ketat terhadap proses administrasi, agar citra pesantren yang baik tidak terusik dan tercemar oleh hal-hal yang tidak etis seperti itu.

Rabu, 30 Juni 2010

untuk menatap lebih jauh

hidup itu hanya untuk berjalan
kadang kita takut memutuskan,
ragu-ragu, atau bahkan tengah tersesat
tapi bagaimanapun juga, hidup terus berjalan,
tak cukup beri waktu berpikir
maka pilihlah yang ada di hadapanmu,
atau segalanya lenyap seketika itu juga
ya, kawan, hidup itu terus berjalan!
maka melangkahlah dengan gagah berani,
jangan berhenti! bersemangatlah!

Jangan mengeluh lagi, sebenarnya kita sungguh berbahagia kawan.,.,!!!

Kamis, 17 Juni 2010

Humor 1

pasti terlihat lebih bodoh
Seorang sales sedang mencoba membujuk seorang petani untuk membeli sebuah sepeda. Si petani menolak untuk membeli sebuah sepeda, tapi ternyata si sales tampaknya tidak mudah menyerah.
“Hei … daripada membeli sepeda, lebih baik aku habiskan uangku untuk pelihara sapi,” kata si petani.
“Ah,” jawab si sales, “tapi coba pikir deh … Anda akan sangat terlihat bodoh jika Anda bepergian dengan mengendarai seekor sapi.”
“Huhh!!” hardik si petani. “Apakah tidak lebih bodoh jika orang melihatku memerah sebuah sepeda!”

kamu keturunan yugoslavia ya

Seorang guru baru tengah mengabsen murid-muridnya.
Sang guru tertarik dengan sebuah nama, dan memanggil murid dengan nama tersebut.
Guru : “Smary Saklitinov, coba kemari”
Murid : “Iya Bu”.
Guru : “Sini kamu Nak, kamu keturunan yugoslavia ya?”
Murid : “Bukan Bu.”
Guru : “Lalu kenapa nama kamu Smary Saklitinov?”
Murid : “O, Smary itu singkatan dari nama Bapak saya S(urtono) dan Ibu saya Mary(anti).”
Guru : “Mmmm.. kalau Saklitinov?”
Murid : “Sabtu kliwon tiga november”





Kenapa ayam kalo berkokok matanya merem?
Sambil menunggu bel masuk sekolah, Sheila dan marcelina bermain tebak – tebakan :
Sheila : coba tebak kenapa ayam kalo berkokok matanya merem ????
marcelina : ya jelas lah ayam kan bangunnya sangat pagi jadinya masih ngantuk!!!
Sheila : salah.,.,.,.,.,.
Marcelina : lantas apa jawabannya?????
Sheila : ya karena ayam udah hafal teksnya.,.,,
Marcelina : oh dasar,.,.,.,.,.””””””
Sheila : ha.,.,.ha,.,.,.,ha.,.,.

apakah ada korban jiwa?
Kejadiannya pada saat musim mudik lebaran, di daerah pantura terjadi kecelakaan antar bus dan truk. Seorang saksi tunggal yg melihat kejadian tersebut menelpon polisi.
“Selamat siang Pak Saya mau melaporkan telah terjadi kecelakaan antara bus dan truk”
“Bagaimana kondisi dan keadaan penumpang, apakah ada korban jiwa?” tanya petugas
“Iya Pak, 1 org mati di tempat, 2 luka parah, 3 luka ringan, 4 sehat, 5 sempurna…”

Thanks...