Malam ini begitu syahdu, yang terbayang entah kenapa mayoritas hanya sosok dirimu. Berapa hari sudah ku jalani alur kehidupan ku dengan bercumbu pada halusinasi yang tak pasti.
Aku rasa momentumku terlambat, ternyata aku belum cukup dewasa memeluk perasaanku tentangmu. Tapi barangkali ini yg dinamakan konsekuensi cinta, harus bertahan, dari perasaan yang belum mampu terungkapkan.
Saat itu, saat yang lampau, Kulalui hari-hariku dengan menguntit dibelakangmu. Mencoba mencari perhatian darimu, dan berusaha apapun caranya bisa dekat denganmu.
Sungguh diawal pertama kali aku berkenalan denganmu, sedikitpun aku tak pernah berfikir melepasmu. Tetapi yang terjadi layaknya manusia biasa, tak mampu berlogika dengan hukum cinta. Aku mencintaimu sejak "dulu" hingga saat waktu berjalan hampir memisahkan cerita kita. Tanpa kusadari detak detiknya, hanya beberapa bulan aku memendam rasa ini, membatasi hatiku dengan cinta sedalam-dalamnya.
Begitu berharganya sebuah kebersamaan, hingga baru kusadari, setelah intensitas mulai berkurang.
Kutemukanmu dalam sunyi malamku. Coba perlahan ku hibur diriku dari cinta yang terluka. Meski ku tahu itu sia-sia. Air mata yang terkulai tak seharusnya membasahi pipi, tapi apa daya hati memang sukar diajak berkompromi. Sebenarnya akupun tak kuasa berada disampingmu, memaksamu yakin dan menuntut mantabnya hatimu, tak kuat aku melihatmu gusar, sesak, lemas, menahan rasa yang tak mampu dipaksa. Biarlah ruang sunyi dan alas yang suci, menjadi saksi bisu atas rindumu pada seseorang dan diamnya rinduku padamu.
Kini kamu sudah bisa lega, kamu sudah bisa jalani kehidupan yang lebih damai, lebih tenang, tak ada lagi siapapun yang akan merepotkan dan mengganggumu lagi.
Lembar baru harus kau torehkan, sedangkan aku, harus rela menyiapkan rak dalam hatiku demi menampung lembaran lama bersamamu. Kusiapkan dengan tangan lemas dan bergetar, kutata rapi demi tulusnya rasa ini atasmu. Ini memang saatnya, aku harus menahan sedih yang sudah tak lagi bertuan. Dan barangkali, kesedihan itu yang saat ini aku butuhkan.
Entah kenapa peristiwa ini harus aku alami, kenapa bukan dari dulu saja semua segera diakhiri, kenapa aku harus terlebih dulu menemui kemesraan bersamamu, kenapa begitu intim kedekatan yang kau bangun saat itu, kenapa aku hanya menjadi "persimpangan" atas jalan yang kau lalui, jalan untuk menemui pelabuhan terakhirmu, kenapa harus aku, andai saja aku tahu, maka aku tak akan berspekulasi masuk dalam rongga hatimu, Jika ternyata, harus seperti ini, semua diakhiri.
Kenapa, kenapa setelah sejauh ini, kau sampaikan keputusan yang.... Ahh sudahlah, hal ini juga tidak bisa merubah apa-apa, selain Kuasa Sang Pembolak-balik hati.
Satu malam aku renungkan, dengan khusyuk aku bertahan. Ternyata sungguh bodoh pertanyaan seperti itu aku tanyakan, sungguh lancang jika aku harus menyalahkanmu, apalagi sampai berani aku menghardik Takdir Tuhan. Permenunganku berhasil membawaku pada satu ilmu yang mendasar.
"Jika kamu bahagia, sediakan waktu untuk bersedih, jika kamu bersedih luangkan masa untuk mencari hikmahnya".
Kamu berhasil mengajariku tentang 2 hal: tentang arti pasrah dan kesetiaan.
Pasrah, memang karena ada Tuhan yang berhak membolak balikkan hati hamba-Nya sesuai kehendak-Nya. Kita tak patut menuntut apapun dalam doa, karena Tuhan punya banyak cara untuk menyayangi hambanya. Pasrah, Itu saja.
Setia, kesetiaan memang tak bisa lahir secara instan, butuh kedewasaan untuk menjalankan. Jika kita kehilangan sesuatu, seseorang, peristiwa atau apapun saja, maka pastikan bahwa kita tidak kehilangan ilmunya. Kesetiaan itu tidak harus memiliki, jika kau setia dan berkomitmen untuk membuatnya bahagia, apapun hasilnya, jadikan dia bahagia, jaga hati dan perasaannya. Jangan buat dia sedih, karena aku pun yakin dia akan menjagamu sebaik yang ia mampu, ia juga tak akan pernah berniat menyakitimu. Dia baik, kamu baik, maka cintamu terukir abadi. Yaaa, Kesetiaan, setia dalam ikhlas, Itu saja.
Terlalu susah bagi manusia biasa mengartikan cinta, yang jelas yang aku tahu, pernikahan karena cinta akan berlangsung seutuhnya dan selamanya.
"Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya"
Aku pernah merasa memilikimu, sehingga kehilangan itu yang aku rasa. Pada akhirnya aku tahu, bukan kamu yang kumiliki, tapi kehilangannya lah yang aku miliki. Memiliki kehilangan.
Ternyata aku tidak boleh hanya sekedar menulis, memang aku harus mampu memahami, kalimat yang sering aku gemborkan, "bahwa apa yang kita ingin belum tentu kita dapat".
Aahhh. Sudahlah, sudah tak kuat kulanjutkan tulisan ini,,, Semua sudah kamu putuskan, tak ada dendam, tak ada amarah, yang ada hanya sebuah kenangan, kenangan indah bagiku, entah bagimu...
Maaf atas salah yang pernah ada, Terimakasih ya "Us*" untuk apapun yang selama ini pernah kita jalani...
Semoga hubungan kalian berjalan langgeng, setia dan penuh keberkahan.
Pekanbaru, 26 Des 2014
Ada satu hal yang tidak akan mungkin terjadi di dunia ini, yaitu "Sesuatu yang belum pernah dicoba",Semoga Bermanfaat....
Jumat, 26 Desember 2014
Kamis, 25 Desember 2014
DO'A itu Untukmu.....
Yaa Rabb,
Mungkin saat ini jarak yang membentangkan antara aku dan entah siapa "dia", tapi dengan Maha Suci Cintamu, kelak akan Kau jadikan kami mendekat satu sama lain,
Yaa Rahman Yaa Rohiim,
Kami menyadari, karena cinta, hakikat jauh dekat bukan saja masalah jarak, tapi tentang sebuah kesabaran,
Yaa Bashiir,
Tak benar jika cintaku pada ciptaanmu,
Melibihi cintaku pada-Mu & cintaku pada Rasul Utusanmu
Karena, Engkau pun tahu,
Yang kumaksud adalah cinta dalam dimensi Makhluk, bahkan cinta ini berada satu tingkat dibawah mesranya cintaku pada keluargaku,
Yaa Lathief,
Barangkali kau hadirkan ujian yang kasar, terjal dan berat
Tapi ku yakin, Di depan Kau pertemukan dengan jalan yang mudah untuk ku lewat,
Yaa Muqolibal Qolb,
Engkaulah yang membolak-balikkan hati
Engkaulah sang pemilik cinta sejati
Tak layak aku mengaku-ngakui perasaanku ini
Tanpa sedikitpun “keridhoan" yang kau beri
Yaa 'alim,
Hanya engkaulah yang maha berilmu,
Kehebatan manusia tidak akan sanggup menemukan dan menghitung kandungan nilai cinta satu hamba dgn hamba lainya,
Yaa Karim,
Bahkan kata tak mampu mengutarakan kedahsyatan cinta, pun sastra tak bisa menerjemahkan kedalaman suka dukanya
Yaa Salam...
Ku sebut Dia dalam untaian do'a
Agar tak salah aku memilah,
Yaa Qowiyyu...
Engkau Kuasa, sedangkan aku, lemah selemah-lemahnya, tak bisa aku memaksa maksa kehendakku, karena belum tentu itu Baik menurut Kehendak-Mu
Yaa 'Aliyyu...
Engkau Maha Tinggi, sedangkan aku, rendah serendah-rendahnya
Sehingga tak mampu aku memutuskan,
Tanpa campur tangan-Mu yang memberi tuntunan
Yaa Fattah...
Lewat untaian do'a inilah aku panjatkan,
Semoga saja, Engkau bersedia menyandingkan, antara "keutuhan cinta" dan "kesucian cinta"
Biidznillah, dengan izin-Mu Yaa Allah...
Lewat keagungan namamu inilah aku sampaikan,
Sungguh tak ada harapan lain
Kecuali kesederhanaan cintaku ini, terjaga, terpelihara dalam pasrah dan setia
Amiiin.................
Mungkin saat ini jarak yang membentangkan antara aku dan entah siapa "dia", tapi dengan Maha Suci Cintamu, kelak akan Kau jadikan kami mendekat satu sama lain,
Yaa Rahman Yaa Rohiim,
Kami menyadari, karena cinta, hakikat jauh dekat bukan saja masalah jarak, tapi tentang sebuah kesabaran,
Yaa Bashiir,
Tak benar jika cintaku pada ciptaanmu,
Melibihi cintaku pada-Mu & cintaku pada Rasul Utusanmu
Karena, Engkau pun tahu,
Yang kumaksud adalah cinta dalam dimensi Makhluk, bahkan cinta ini berada satu tingkat dibawah mesranya cintaku pada keluargaku,
Yaa Lathief,
Barangkali kau hadirkan ujian yang kasar, terjal dan berat
Tapi ku yakin, Di depan Kau pertemukan dengan jalan yang mudah untuk ku lewat,
Yaa Muqolibal Qolb,
Engkaulah yang membolak-balikkan hati
Engkaulah sang pemilik cinta sejati
Tak layak aku mengaku-ngakui perasaanku ini
Tanpa sedikitpun “keridhoan" yang kau beri
Yaa 'alim,
Hanya engkaulah yang maha berilmu,
Kehebatan manusia tidak akan sanggup menemukan dan menghitung kandungan nilai cinta satu hamba dgn hamba lainya,
Yaa Karim,
Bahkan kata tak mampu mengutarakan kedahsyatan cinta, pun sastra tak bisa menerjemahkan kedalaman suka dukanya
Yaa Salam...
Ku sebut Dia dalam untaian do'a
Agar tak salah aku memilah,
Yaa Qowiyyu...
Engkau Kuasa, sedangkan aku, lemah selemah-lemahnya, tak bisa aku memaksa maksa kehendakku, karena belum tentu itu Baik menurut Kehendak-Mu
Yaa 'Aliyyu...
Engkau Maha Tinggi, sedangkan aku, rendah serendah-rendahnya
Sehingga tak mampu aku memutuskan,
Tanpa campur tangan-Mu yang memberi tuntunan
Yaa Fattah...
Lewat untaian do'a inilah aku panjatkan,
Semoga saja, Engkau bersedia menyandingkan, antara "keutuhan cinta" dan "kesucian cinta"
Biidznillah, dengan izin-Mu Yaa Allah...
Lewat keagungan namamu inilah aku sampaikan,
Sungguh tak ada harapan lain
Kecuali kesederhanaan cintaku ini, terjaga, terpelihara dalam pasrah dan setia
Amiiin.................
Minggu, 18 Mei 2014
"Kita" Tanpa Sastra
Kenapa juga beribu puisi yang tearangkai dari kreatifitas sastrawan,
Hancur dan terkalahkan oleh banyolan
Mengapa juga indahnya bait,
Tersungkur oleh sederhananya goyang itik,
Kenapa juga gegap drama teater,
Terkubur oleh gempita sinetron puter
Mengapa yaa cerdasnya ludrukan, ketoprakan, harus digilas oleh mabok goyang oplosan,
Cukup dengan kata "Pertinyi inyi", jadi terkenal,
Hanya dengan "bang jali", sudah menjadi sauri tauladan tertinggi
Sastrawan sejati rasanya cukup sulit terkenal,
Karena bagi media sama sekali tidak menjual
Pesona berita bukan lagi tentang esensi, tetapi cukup menarik membahas sensasi
Mengapa juga indahnya bait,
Tersungkur oleh sederhananya goyang itik,
Kenapa juga gegap drama teater,
Terkubur oleh gempita sinetron puter
Mengapa yaa cerdasnya ludrukan, ketoprakan, harus digilas oleh mabok goyang oplosan,
Cukup dengan kata "Pertinyi inyi", jadi terkenal,
Hanya dengan "bang jali", sudah menjadi sauri tauladan tertinggi
Sastrawan sejati rasanya cukup sulit terkenal,
Karena bagi media sama sekali tidak menjual
Pesona berita bukan lagi tentang esensi, tetapi cukup menarik membahas sensasi
Minggu, 16 Maret 2014
BANGSAKU: BANGSA YANG SUKA NGGUYA-NGGUYU
Bangsaku bangsa yang riang nan lucu
Media menghibur,
Tontonan lawak semakin kocak,
Pagi, siang , bahkan malam hari acara makin menjadi-jadi
Geli, Gila, Galau lawakan itu membuat mata terpukau
Bangsaku bangsa yang sangat ceria
Tergambar dari derap tawa Masyarakatnya yang tak sudah-sudah
Dimana langkah kau ayunkan, disana akan kau temukan kemeriahan
Rela tak beranjak demi aktifitas terbahak-bahak,
Tak bakal pindah walau sejengkal dari deru kaki yang terpingkal-pingkal
Bangsa ini adalah bangsa yang latah terhadap kekaguman
Bangsa pesakitan yang tak menderita oleh kesengsaraan
Maka asupan yang harus diberikan adalah yang ber-aroma cengengesan
Dan Ber-multivitamin Cekikikan,
Terapinya adalah dengan berjoget gila-gilaan,
Makin tak beraturan joget yang diperagakan
Makin berpeluang kau mendapat predikat pemenang
Aneh memang, tapi itulah kenyataan
Acara lucu yang paling laku
Acara syarat makna makin tak berdaya
Acara penuh hikmah makin minim jam tayangnya
Siapa yang paling banyak menghadirkan tawa
Maka dia lah yang paling tinggi ratingnya
Kalau perlu, guyonan dan lucu-lucuan menjadi acara utama bagi semua media
“Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”
Barangkali Motto itulah yang membuat banyak orang mulai berlomba-lomba
Mencari kreatifitas diri, berimprovisasi, berimajinasi memamerkan “Potensi”
Tak ada risih meski harus mengorbankan kehormatan diri
Demi satu tujuan, ada yang ngelirik dan akhirnya didaftarkan masuk Tipi
Tipi, tipi, dan masuk tipi mungkin itu adalah puncak cita-cita tertinggi untuk saat ini
Tapiiiii…….
Ahhh sudahlah……..
Aaahhh Biarlah……..
Bangsaku telah menemukan kenikmatan yang baru
Kepuasan bertahan didepan komedi saru
Bangsa ini sudah mulai lupa dan pura-pura tidak tahu
Bahwa mereka juga memiliki “Keasyikan” lokal yang lebih seru
Semarang, 26 Desember 2013
Kamis, 15 Agustus 2013
IKHTIAR CINTA
1. Cinta Bersabarlah
Begitu lama aku mencoba
Dan sampai kini tak berdaya
Oh rasa cinta bersabarlah menantinya
Walau tak ku punya Tapi ku percaya cinta itu indah
Walau tak terlihat Tapi ku percaya cinta itu indah
Oh rasa cinta bersabarlah menantinya

Ahhh, Indah sekali penggalan lyric lagu itu, senandung mesra yang selalu elok untuk didendangkan dan selalu menentramkan saat didengarkan. Lyric lagu kreatif yang dipopulerkan oleh Band Letto ini cukup mewakili sapaan lirih kalbuku. Yaa, sudah lama aku berusaha, semaksimal mungkin untuk mencoba, ingin sekedar ku gapai hati itu, hatimu yang serasa tulus, suci dan utuh, Bahkan bagi siapapun tak mudah singgah dan sesekali berteduh dibawah ranum kalbumu, kecuali bagi yang engkau perkenankan hadir menemui kesejatian dirimu. Sesekali aku masih mencoba, tapi apa daya diri tak kuasa melawan resistensi kejujuran hatimu. Kesabaranku memuncak, dan baru kusadari bahwa puncak dari sebuah kesabaran adalah menuju kepada kesabaran yang lebih sejati. Kesadaranku terhenyak, normalitas pikiranku tersentak melihat parasmu yang mengoyak. Sifatmu melenakan batinku, musikalitas sikapmu mengantarkan jiwaku semakin terpana, irama kepribadianmu tak jarang membuncahkan lamunanku, Lebaaaaay banget, yaaaa lebay uraian ini se-lebay jujurnya perasaanku pada dirimu. Saat dulu bahkan mungkin sampai saat ini pun “belum aku punya” cinta itu, tapi sungguh aku tetap percaya bahwa cinta yang kau bawa begitu indah, meski belum sampai terlihat, tapi masih saja dibuat gila aku mempercayainya. Aaah biarlah, entah meski sampai waktu berapa lama, yang jelas sudah aku perintahkan pada hati ku sendiri, untuk tetap tegar dan bersabar, juga sudah aku beri mandataris kepada hati ini agar senantiasa tetap bersandar pada sebuah kepasrahan dan penantian. Yaa kalaupun memang kelak kenyataan yang muncul tidak sesuai seperti yang diusahakan, pertama setidaknya peristiwa tersebut bisa menjadi ilmu, karena pelajaran terbaik / ilmu paling berkesan adalah yang dilahirkan dari sebuah pengalaman.
Bolehlah ini dikatakan sebagai curahan hati meski sekedar “mengagumi”, kalau belum bisa disebut “mencintai”. Entah dimensi ruh sebelah mana yang sering menggetarkan nyaliku, tak tau apa nama perasaan itu, banyak anak muda menyebutnya “Cinta”. Aku juga masih bingung dibuatnya, entahlah, Kata orang, cinta karenaketampanan/kecantikan sejatinya itu bukan cinta tapi nafsu, Mencintai karena kekayaan, sejatinya bukan cinta tapi materialistik, Mencintai karena kelihaian seseorang, sejatinya bukan cinta tapi kagum, tapi bagaimanapun kata orang terkait hal itu, yang jelas diam-diam aku menyimpan sebuah rasa yang entah apa namanya, tatkala disebut namamu gemetar aku dibuatnya. Dan aku pastikan, bahwa aku membutuhkan Cantik, Kaya dan lihaimu, cantiknya hatimu untuk melengkapi buruknya hatiku, yang aku butuhkan kekayaan batinmu untuk mensejahterakan miskinnya batinku, kubutuhkan keliahaian cara berfikirmu untuk membetulkan cara pandang ku yang mungkin banyak keliru, kesemuanya itu aku sampaikan, supaya suatu saat kita bisa menemukan irama strategis untuk bisa berjalan secara harmonis, meski keinginan itu sekedar ilusi tak logis. Gila pikiranku, stress logikaku, lelah batinku, terkulai hatiku saat sang waktu kembali mengajak bersimfoni menemui dirimu. Terlalu sulit membayangkan dirimu, suliiiiiiiiit sekali membayangkanmu, karena kau bukan bayangan, tapi kau kenyataan, kau begitu nyata mengusik relung batinku. Hufth andai kau tau, kala itu sungguh nafasku tersenggal-senggal Sedikit tersiksa, meronta-ronta tak berdaya.
Minggu, 30 Juni 2013
KU KIRIM DOA CINTAKU LEWAT KEAGUNGAN NAMA-MU
Yaa Rabb,
Mungkin saat ini jarak yang membentangkan antara aku dan entah siapa "dia", tapi dengan Maha Suci Cintamu, kelak akan Kau jadikan kami mendekat satu sama lain,
Yaa Rahman Yaa Rohiim,
Kami menyadari, karena cinta, hakikat jauh dekat bukan saja karena sebuah jarak, tapi tentang sebuah kesabaran,
Yaa Bashiir,
Tak benar jika cintaku pada ciptaanmu,
Melibihi cintaku pada-Mu & cintaku pada Rasul Utusanmu
Karena, Engkau pun tahu,
Yang kumaksud adalah cinta dalam dimensi Makhluk, bahkan cinta ini berada satu tingkat dibawah mesranya cintaku pada keluargaku,
Yaa Lathief,
Barangkali kau hadirkan ujian yang kasar, terjal dan berat
Tapi ku yakin, Di depan Kau pertemukan dengan jalan yang mudah untuk ku lewat,
Yaa Muqolibal Qolb,
Engkaulah yang membolak-balikkan hati
Engkaulah sang pemilik cinta sejati
Tak layak aku mengaku-ngakui perasaanku ini
Tanpa sedikitpun “keridhoan" yang kau beri
Mungkin saat ini jarak yang membentangkan antara aku dan entah siapa "dia", tapi dengan Maha Suci Cintamu, kelak akan Kau jadikan kami mendekat satu sama lain,
Yaa Rahman Yaa Rohiim,
Kami menyadari, karena cinta, hakikat jauh dekat bukan saja karena sebuah jarak, tapi tentang sebuah kesabaran,
Yaa Bashiir,
Tak benar jika cintaku pada ciptaanmu,
Melibihi cintaku pada-Mu & cintaku pada Rasul Utusanmu
Karena, Engkau pun tahu,
Yang kumaksud adalah cinta dalam dimensi Makhluk, bahkan cinta ini berada satu tingkat dibawah mesranya cintaku pada keluargaku,
Yaa Lathief,
Barangkali kau hadirkan ujian yang kasar, terjal dan berat
Tapi ku yakin, Di depan Kau pertemukan dengan jalan yang mudah untuk ku lewat,
Yaa Muqolibal Qolb,
Engkaulah yang membolak-balikkan hati
Engkaulah sang pemilik cinta sejati
Tak layak aku mengaku-ngakui perasaanku ini
Tanpa sedikitpun “keridhoan" yang kau beri
Jumat, 31 Mei 2013
MENGILHAMI "KEHILANGAN"
Ini case yang baru-baru ini saya alami. Pertama sebuah motor milik seorang kawan yang hilang di rumah kos di kota palembang, dan yang kedua laptop milik saya dan dompet seorang kawan yang dicuri dalam waktu yang bersamaan di rumah kos dikota jakarta. Kata kerja nya sama, dengan objek, keterangan waktu, dan tempat yang berbeda. Sebelum saya lanjutkan dengan pemaparan berdasarkan sudut pandang, arah pandang, dan cara pandang yang saya punyai, ada rangkaian kalimat yang pernah dituturkan oleh Seorang Guru, beliau banyak mengajarkan kontempelasi pemikiran kepada para muridnya, kawannya dan jamaah diskusinya, beliau Emha 'ainun Nadjib, atau yang kerap dan akrab dipanggil cak nun, beliau mengatakan sbb:
"Untuk mencuri ternyata saya memerlukan tiga hal:
Pertama, sesuatu yang saya curi.
Kedua, saya memerlukan peluang waktu untuk melakukan pencurian.
Dan ketiga, saya membutuhkan suatu tempat untuk menyembunyikan sesuatu itu sesudah saya pindahkan dari tempatnya yang semula.
Jadi, dengan sekali mencuri, dosa atau kesalahan saya akan bertumpuk-tumpuk.
SESUATU yang saya curi itu sudah pasti bukan milik saya.
WAKTU yang saya pakai untuk mencuri pun bukan milik saya.
Dan seandainya pihak yg berhak atas WAKTU meminjamkannya kepada saya, maka pasti ia tidak akan mengizinkan WAKTU saya pakai untuk mencuri.
Begitu juga TEMPAT yang saya gunakan untuk menyembunyikan barang curian itu jelas bukan milik saya pula.
Sebab saya tidak pernah bisa menciptakan ruang, tanah, dunia, alam atau apapun saja, sehingga bagaimana mungkin saya pernah benar-benar punya hak atas suatu tempat.
Belum lagi kalau saya hitung bahwa tangan, kaki, otak, mata, telinga, darah, tenaga dan lain sebagainya_yang semua saya kerahkan untuk melakukan pencurian, ternyata juga sama sekali bukan milik saya.
Jadi, sekali mencuri, langsung saya dapatkan puluhan kesalahan, atau bahkan mungkin ribuan dosa”, -Cak Nun-".
"Untuk mencuri ternyata saya memerlukan tiga hal:
Pertama, sesuatu yang saya curi.
Kedua, saya memerlukan peluang waktu untuk melakukan pencurian.
Dan ketiga, saya membutuhkan suatu tempat untuk menyembunyikan sesuatu itu sesudah saya pindahkan dari tempatnya yang semula.
Jadi, dengan sekali mencuri, dosa atau kesalahan saya akan bertumpuk-tumpuk.
SESUATU yang saya curi itu sudah pasti bukan milik saya.
WAKTU yang saya pakai untuk mencuri pun bukan milik saya.
Dan seandainya pihak yg berhak atas WAKTU meminjamkannya kepada saya, maka pasti ia tidak akan mengizinkan WAKTU saya pakai untuk mencuri.
Begitu juga TEMPAT yang saya gunakan untuk menyembunyikan barang curian itu jelas bukan milik saya pula.
Sebab saya tidak pernah bisa menciptakan ruang, tanah, dunia, alam atau apapun saja, sehingga bagaimana mungkin saya pernah benar-benar punya hak atas suatu tempat.
Belum lagi kalau saya hitung bahwa tangan, kaki, otak, mata, telinga, darah, tenaga dan lain sebagainya_yang semua saya kerahkan untuk melakukan pencurian, ternyata juga sama sekali bukan milik saya.
Jadi, sekali mencuri, langsung saya dapatkan puluhan kesalahan, atau bahkan mungkin ribuan dosa”, -Cak Nun-".
Dari sini mari kita bersama-sama mempelajari. Mungkin bukan hanya saya dan teman saya, tapi juga anda, keluarga, serta saudara anda pun pernah mengalami hal serupa. Kehilangan sesuatu yang berharga, Berharga dari segi materiil, berharga karena substansi kenangan yang tertempel didalamnya, berharga karena menyangkut aktifitas anda, berharga karena berisi document project pekerjaan yang saat ini sedang anda jalankan, atau berharga karena secara fungsinya, dsb. Kadangkala orang yang kehilangan laptop lebih menderita dibandingkan dengan orang yang kehilangan motor misalnya. Penderitaan yang tercermin bukan karena harga laptop tersebut, tapi lebih karena dokumen dan file yang tersimpan didalamnya bernilai sekian lipat dari harga motor. Itulah sebabnya, nilai suatu benda bukan saja dilihat dari harganya. Lantas bagaimana reflek kita dalam merespon kejadian tersebut? Seringkali kita sedih, tentusaja, marah, wajar, tak jarang kita histeris, manusiawi, menggerutu tak henti-henti, yaa bisa dipahami, menyumpah, melaknat, mengutuk si pencuri, yaa sangat normal. Lantas kalau boleh pertanyaan tersebut saya lanjutkan, bagaimana perasaan setelah itu?
Senin, 27 Mei 2013
Belajar "Nyunggi"
Sore itu, entah hari apa dan tanggal berapa tepatnya, aku sudah lupa, yang jelas saat itu bulan januari, Bulan dimana aku dipertemukan dengan seorang nenek tua, dengan semangat memanggul tumpukan kardus yang diletakkan diatas kepala, ia tumpu kan kardus ditempat yang sejatinya bukan tumpuan seharusnya. Perlu aku informasikan bahwa tulisan jalanan kali ini terinspirasi dari seorang wanita pemungut kardus, yang telah mengajarkan sebuah tanggungjawab yang tak pernah pupus.
Yaa beliau seorang wanita, ia seorang ibu yang kuat, bahkan mungkin seorang nenek yang tegar, raut wajahnya terlihat menua meski tak cukup renta. Dengan sisa energi yang ada, ia berjalan melewati portal perumahan. Tetap saja bekerja sekuat tenaga meski dunia pongah terhadap keberadaannya, raut pipinya menggambarkan ia bukanlah seorang yang cengeng terhadap keadaan yang dihadapinya. Tegak jalannya, mantap tatap pandangnya. Meski berat pikulannya tetap saja ketabahan yang ia pancarkan. Meski berat ikatan kardus yang dibawanya, ia tidak mau terlena, terlihat jelas dari bibir keriputnya. Setengah siang ia berjalan sambil sesekali menyeka keringat, menghindari panas kota surabaya dibawah lindungan rerumbutan pohon yang berjajar di tengah perumahan yang agak megah. Langkah demi langkah, sesekali berhenti menghirup lebih dalam udara disekelilingnya.
Dengan beberapa ikat kardus yang di "sunggi" diatas kepala, ia acuh terhadap keluh dan kesah, cukup mesra dengan aktifitasnya, meski terlihat sedikit memaksa. Baginya, yang terpenting terus "nyunggi", terus "mengemban", lingkungan tidak memberikan jaminan apa-apa kecuali dirinya sendiri yang menciptakan peluang.
Kamis, 23 Mei 2013
BOCAH PENGAMEN BERSAUDARA
Udara sore itu lumayan sejuk, hujan yang satu jam lalu mengunjungi kota ini (sensor, hhehe), masih meninggalkan pesan sejuk untuk dapat dihirup. Udara sore ini benar-benar bersahabat, rasanya ingin cepat-cepat balik ke kos sekedar melepas penat hari itu. Satu hal yang membuat langkah kaki semakin berat diayunkan, karena perut ini sudah mulai bernyanyi lagu sendu, pertanda aku harus terlebih dahulu memenuhi undangan perut yang semakin lesu.
Ku tinggalkan beberapa pekerjaan yang sedikit belum kelar aku kerjakan, meskipun jadwal pulang kantor sudah lewat beberapa jam. Sudahlah, ku coba menjaga metabolisme asupan tubuh biar berjalan lebih teratur. Ku coba keluar dari ruangan kantor menuju pinggir jalan raya, sembari berharap ada orang jualan yang lewat didepan kantor. Kali aja ada tukang nasi goreng yang berseliweran kayak disurabaya. Agak lama aku menunggu nampaknya belum ada perjodohan yang dipertemukan dengan perut yang semakin keroncongan ini. Saat masih asyik berdiri diatas alas ketidakpastian, seorang kawan berteriak dari belakang mengagetkan lamunan ku menunggu abang tukang nasi.
"Ngapain lu brey,?" Tanyanya,
"Cari makan jeh, perut laper nih", jawab ku sambil meringis,
"Yaelah, jangan ditunggu bro, gak bakal ada yang lewat, udah kita cari makan diluar aja", timpalnya.
"Bolehlah, kita cari makan diluar, mau cari apa?" Kejar ku,
"Dingin gini, makan nasi sup ceker pedes manteb nih bro,".
"Cocok bro, lanjuuut," jawab ku gak pakai lama.
Minggu, 19 Mei 2013
BAHAGIA ITU???
Gembira, senang dan bahagia, 3 kata yang mungkin setiap orang memiliki penafsiran makna yang berbeda-beda. Sampai saat ini, sampai kalimat ini aku tulis, aku belum menemukan definisi dari ke 3 kata tersebut, sama halnya aku juga kesulitan mendefinisikan kata suka, kagum, sayang dan cinta. Yang aku yakini, definisi paling benar adalah yang berada dalam hati masing-masing orang. Setiap orang pastinya memiliki parameter yang tidak sama, pun untuk mewujudkan perasaan tersebut, setiap individu tidak serupa. Ada yang gembira saat mereka telah diwisuda, ada yang merasa senang karena orang yang dia cintai telah datang, ada yang bahagia saat apa yang menjadi keinginannya dapat terwujud dengan mudah dll dsb. Ada yang output dari kegembiraannya dia tertawa dengan lepas. Dan itu semua masih sah dan tidak ada pasal yang melarang tindakan tersebut. Kebahagiaan dan kegembiraan yang ia pancarkan tergantung momen yang ia rasakan.
Ada satu cerita terkait penilaian orang terhadap kata "bahagia" itu. Beberapa minggu lalu, saat baru saja aku menginjakkan kaki di salah satu kota di Sumatera Selatan (kota terjauh yang pernah aku singgahi), aku mendapat beberapa tawaran dari teman-teman untuk mencari "kebahagiaan" yang mereka perhalus dengan istilah "refreshing". Beberapa kawan mengatakan dipalembang tidak seperti di pulau jawa, surabaya, atau jakarta misalnya. Disini hanya ada 4 mall (kalau gak salah), dan dari sekian mall hanya ada 1 bioskop disalah satu mall itu. Saat beberapa minggu awal khususnya weekend sering aku mengikuti teman-teman ke mall, meski untuk sekedar makan, nongkrong dan nonton, bagi mereka "inilah satu-satunya tempat untuk melepas penat, satu-satunya tempat dari seluas tempat yang bisa bikin mata menjadi segar, yang bikin bibir tersenyum lebar, hanya itu dan hampir tiap minggu tempat inilah yang mereka tuju, woooow!!!"
Ada satu cerita terkait penilaian orang terhadap kata "bahagia" itu. Beberapa minggu lalu, saat baru saja aku menginjakkan kaki di salah satu kota di Sumatera Selatan (kota terjauh yang pernah aku singgahi), aku mendapat beberapa tawaran dari teman-teman untuk mencari "kebahagiaan" yang mereka perhalus dengan istilah "refreshing". Beberapa kawan mengatakan dipalembang tidak seperti di pulau jawa, surabaya, atau jakarta misalnya. Disini hanya ada 4 mall (kalau gak salah), dan dari sekian mall hanya ada 1 bioskop disalah satu mall itu. Saat beberapa minggu awal khususnya weekend sering aku mengikuti teman-teman ke mall, meski untuk sekedar makan, nongkrong dan nonton, bagi mereka "inilah satu-satunya tempat untuk melepas penat, satu-satunya tempat dari seluas tempat yang bisa bikin mata menjadi segar, yang bikin bibir tersenyum lebar, hanya itu dan hampir tiap minggu tempat inilah yang mereka tuju, woooow!!!"
Sabtu, 18 Mei 2013
RENUNGAN JALANAN
Aku terpesona, hatiku terkesima, mataku terpana, ketika harus menyaksikan ketabahan manusia dengan segala keterbatasannya, menghadapi dinginnya malam kota Surabaya.
Malam itu, 00.30 WIB, malam penghubung antar bulan (Juni-Juli), batas akhir bulan juni dan penanda awal juli, aku melakukan perjalanan. Perjalanan yang memang aku sengaja adanya. Dinginnya malam kota surabaya mulai menerobos masuk kedalam tulang sum-sum, melewati batas tebal jaket yang aku kenakan. Biar saja suhu yang dingin ini mengalihkan kesunyian batin dan fikiranku. Ku pacu saja Jupiter Z melawan udara malam. Aku sudah ada niatan melakukan apa, tapi belum ada niatan mau kemana. Tetap saja ku pacu motorku menyusuri tepian surabaya. Ada dua pemandangan yang terlihat sangat bertolak belakang, disaat aku melewati tengah kota, satu kutub menampilkan “kebahagian semu”, para muda-mudi yang menikmati malam, sekumpulan group motor yang berjajar memamerkan keindahan motornya, club malam bergemuruh berpacu dengan lentikan suara karaoke, mereka menghabiskan malam, meluapkan kejenuhan dengan mencari kebahagiaannya masing-masing. Satu kutub yang lain menampilkan magnet yang berbeda, mereka yang berada dipinggiran jalan, bergerombol dan hanya mampu memamerkan keindahan becak dan gerobaknya, seorang wanita paruh baya tetap setia terjaga didalam lapak dagangannya. Apa mungkin setiap hari mereka menghabiskan malam diatas becaknya, terlelap ditimang mimpi. Mereka tertidur nyenyak dengan “ac” alami yang mereka andalkan. Mereka berbaring seperti itu sepanjang sisa malam, menanti cahaya fajar yang membelah keheningan rembulan. Mungkin kesederhanaan becak dan lapak itulah, satu-satunya tempat curhat dan memelihara harapan. Ku susuri juga beberapa tempat pembuangan sampah. Tengah malam pun ada saja yang masih beraktifitas memilah-milah buangan limbah. Tak bisa aku berbuat apa-apa, atau minimal berkata-kata. Lelahku secuilpun tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ketabahan mereka. Aku berjalan dengan membawa “bekal materi” yang sengaja aku sediakan buat sebagian dari mereka, Cuma beberapa orang dari sekian banyak orang yang aku jumpai. Yaa sebagian saja, maaf, memang aku belum mampu membagikan “bekal” buat semua yang aku temui, karena tak bakal cukup bekal itu aku berikan kepada mereka.
Seorang pria yang sudah pantas menyandang gelar “kakek”, memunguti sampah kertas dipinggir jalan, Dia bekerja di tengah keremangan malam. Mengumpulkan “Rezeki” di sepanjang jalan yang dilalui. Kertas yang sudah dikumpulkan, diikat dan diletakkan diatas becaknya yang sederhana. Aku terguncang batinku mengambang, Aku hanya bisa membatin, sudah tidak seharusnya seorang kakek yang cukup tua bekerja seperti itu, tapi bagaimana lagi jika keadaan yang memaksa. Dari gerak langkahnya, aku bisa menyimpulkan bahwa dia bukanlah kakek yang cengeng dan melankolis,
Malam itu, 00.30 WIB, malam penghubung antar bulan (Juni-Juli), batas akhir bulan juni dan penanda awal juli, aku melakukan perjalanan. Perjalanan yang memang aku sengaja adanya. Dinginnya malam kota surabaya mulai menerobos masuk kedalam tulang sum-sum, melewati batas tebal jaket yang aku kenakan. Biar saja suhu yang dingin ini mengalihkan kesunyian batin dan fikiranku. Ku pacu saja Jupiter Z melawan udara malam. Aku sudah ada niatan melakukan apa, tapi belum ada niatan mau kemana. Tetap saja ku pacu motorku menyusuri tepian surabaya. Ada dua pemandangan yang terlihat sangat bertolak belakang, disaat aku melewati tengah kota, satu kutub menampilkan “kebahagian semu”, para muda-mudi yang menikmati malam, sekumpulan group motor yang berjajar memamerkan keindahan motornya, club malam bergemuruh berpacu dengan lentikan suara karaoke, mereka menghabiskan malam, meluapkan kejenuhan dengan mencari kebahagiaannya masing-masing. Satu kutub yang lain menampilkan magnet yang berbeda, mereka yang berada dipinggiran jalan, bergerombol dan hanya mampu memamerkan keindahan becak dan gerobaknya, seorang wanita paruh baya tetap setia terjaga didalam lapak dagangannya. Apa mungkin setiap hari mereka menghabiskan malam diatas becaknya, terlelap ditimang mimpi. Mereka tertidur nyenyak dengan “ac” alami yang mereka andalkan. Mereka berbaring seperti itu sepanjang sisa malam, menanti cahaya fajar yang membelah keheningan rembulan. Mungkin kesederhanaan becak dan lapak itulah, satu-satunya tempat curhat dan memelihara harapan. Ku susuri juga beberapa tempat pembuangan sampah. Tengah malam pun ada saja yang masih beraktifitas memilah-milah buangan limbah. Tak bisa aku berbuat apa-apa, atau minimal berkata-kata. Lelahku secuilpun tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ketabahan mereka. Aku berjalan dengan membawa “bekal materi” yang sengaja aku sediakan buat sebagian dari mereka, Cuma beberapa orang dari sekian banyak orang yang aku jumpai. Yaa sebagian saja, maaf, memang aku belum mampu membagikan “bekal” buat semua yang aku temui, karena tak bakal cukup bekal itu aku berikan kepada mereka.
Seorang pria yang sudah pantas menyandang gelar “kakek”, memunguti sampah kertas dipinggir jalan, Dia bekerja di tengah keremangan malam. Mengumpulkan “Rezeki” di sepanjang jalan yang dilalui. Kertas yang sudah dikumpulkan, diikat dan diletakkan diatas becaknya yang sederhana. Aku terguncang batinku mengambang, Aku hanya bisa membatin, sudah tidak seharusnya seorang kakek yang cukup tua bekerja seperti itu, tapi bagaimana lagi jika keadaan yang memaksa. Dari gerak langkahnya, aku bisa menyimpulkan bahwa dia bukanlah kakek yang cengeng dan melankolis,
KAWAN DAN MASA LALU
Layaknya dulu kita tertawa-tawa bahagia melepas susah.
Aku bercerita, kau dengarkan dengan seksama,
Sesekali kau menimpali dengan ocehan khas Jawa Timuran, yang lazim kita sebut dengan "gojlokan".
Begitu juga sebaliknya, saat kau yang bercerita,
Aku mendengarkan dengan ceria,
Meskipun kenyataannya aku hanya berpura-pura.
Toh obrolan itu masih bernuansa mesra.
Wahai kawan,
Inginku berbagi nostalgia Kepada kamu semua, tentang apa saja, semuanya,
Yang dengan sengaja maupun tidak, pernah kita torehkan bersama-sama.
Wahai teman,
Ingin rasanya aku berkumpul dengan kalian semua, Kembali bersama, menjalani aktifitas, melewati tikungan waktu dan masa,
Meskipun hanya beberapa saat saja,
Sekedar untuk mengobati rasa penat yang melanda.
Senin, 29 April 2013
PERJODOHAN SEDEKAH & BALASAN KEBAIKANNYA
"Tidak ada sebuah pertemuan yang terjadi tanpa izin Tuhan, Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi tanpa skenario dan campur tangan Tuhan, sekecil apapun suatu adegan yang kita perankan, tidak mampu kita perhitungkan sebelumya". Entah Kebaikan ataupun keburukan, baik musibah ataupun anugerah, dan apapun saja yang kita temui atau yang kita hadapi pasti ada hikmah yang bisa kita tadabburi. Sedikit diberi musibah, kita langsung su’udzon kepada Tuhan, sedikit diberi kesulitan, kita langsung menagih kedermawanan Tuhan, Jangan terburu-buru memberi nilai, jangan tergesa-gesa menyimpulkan, pelajari dulu, fahami dulu, Tuhan pasti memiliki banyak cara untuk mengajarkan kebijaksanaan kepada hambanya. Seperti tulisan ini, kenapa saya beri judul “Perjodohan Sedekah”, maksudnya bagaimana?, Sebelum kita bahas panjang lebar mengenai maksud dan contoh kongkritnya, alangkah baiknya kita bahas satu persatu, agar kita berada pada nuansa mainstream yang sama.
1. Jodoh Universal
Pernah belanja ke pasar tradisional? Atau bagi orang Surabaya pernah beli sepatu di pasar blauran? Atau begini, anda pasti pernah beli Laptop, Peralatan elektronik, atau computer di HI Tech mall? Handphon lah, anda pasti pindah dari satu toko ke toko lain untuk mencari-cari handphone yang ingin anda miliki? Saya rasa salah satu aktifitas tersebut pernah anda alami. Bagaimana anda memilih Laptop A, atau HP A ditoko X, padahal Type HP atau laptop yang sama juga ada ditoko Y. Masalah harga? Bisa jadi, atau meski harga sama anda tetap memilih di toko X ? itu terkadang tidak mampu kita jelaskan dengan kata-kata, pun tak mampu dideskripsikan dengan tulisan-tulisan. “ya ndak ngerti, pokoknya lebih Sreg aja beli disini”, mungkin itu jawaban yang sering kita munculkan. Kesesuaian dengan hati, apakah itu bukan perjodohan. Satu lagi contoh, kalau misalnya kita beli sepatu di blauran atau toko-toko didaerah lain yang model penyebaran tokonya sama seperti di blauran Surabaya. Berpuluh-puluh toko sepatu berjajar tanpa jarak. Saat kita berjalan kenapa kita berhenti pada Toko X, padahal secara type, model, harga sama dengan toko Y maupun ditoko Z? fenomena tersebut lebih sering sulit kita jelaskan, hanya kesesuaian hati dan pikiran yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal ini bisa berlaku dalam segala laku aktifitas yang kita jalani. Sopir angkot sebutlah demikian, suatu waktu pada jam dan detik tertentu melaju di depan sebuah gang, lantas ada yang melambaikan tangan, bisakah adegan tersebut diterka-terka sebelumnya oleh si sopir angkot, atau bisakah kita mencoba mengutak-atik dan memperhitungkan pusat pertemuan itu?, meski adegan sederhana, saya rasa itu adalah faktor perjodohan yang tidak bisa kita prediksikan, faktor perjodohan yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Saya ulangi lagi kalimat pada baris pertama tulisan ini, ”Tidak ada sebuah pertemuan yang terjadi tanpa izin Tuhan, Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi tanpa skenario dan campur tangan Tuhan, sekecil apapun suatu adegan yang kita perankan tidak mampu kita perhitungkan sebelumya”. Perjodohan tidak melulu kita dipertemukan dengan belahan jiwa atau pemegang tulang rusuk kita. Itu adalah sebagian bentuk perjodohan yang di takdirkan Tuhan, lantas kita kira segala pertemuan dan adegan bukan perjodohan yang telah teratur juga?.
Satu lagi masalah pekerjaan misalnya, bagi sebagian kita yang telah berusaha melamar kerja dan menjemput nafkah, kita masukkan surat lamaran pada beberapa perusahaan, kita kirim email ke Perusahaan ini ke Perusahaan itu, kesana dan kemari, orang bisa menyebutnya gambling, siapa tau luput yang ini dapet yang itu. Gambling itu yaa kalau boleh dibahasakan, sederhananya adalah perjodohan yang belum dipertemukan, dan kita punya effort yang besar dan berusaha untuk menemukan. Kita datang diundang interview di Perusahaan ini dan itu, tapi ternyata adakalanya kita yang kurang mantap untuk melanjutkan tanda tangan kontrak, ada juga perusahaannya yang belum menerima spesifikasi individu kita, siapa yang bisa menyangka? Siapa yang bisa mengira? Alih-alih kita sudah yakin bisa diterima, eh ternyata ada yang kurang memenuhi syarat perusahaan, atau klasifikasi kemampuan kita cukup tinggi dibandingkan yang diminta perusahaan. Di kesempatan yang lain, ternyata kita dipanggil oleh perusahaan A, untuk menjalani tes spesifikasi, dan pada akhirnya kita diterima, hal ini siapa juga yang bisa mengidentifikasinya? Bukankah hal ini juga perjodohan kita dengan perusahaan?. Setali tiga uang, Bisnis misalnya, ada orang yang pertama kali nyoba bisnis A ternyata menghadapi kesulitan, terus ia usahakan sambil nyari bisnis lain, ketemulah bisnis B, tanpa disangka dan tanpa di nyana, lebih cepatlah perkembangan bisnis B ini. Seiring berjalannya waktu bisnis inilah yang menjadi besar, dan berkembang pesat, bukankah ini juga perjodohan kita dengan bisnis?.
Banyak hal yang bisa kita fahami, banyak pelajaran yang bisa kita renungi, banyak kasus yang dapat kita ambil ilmunya. Tuhan menggelarkan semua kejadian untuk kita cari maknanya, untuk kita aplikasikan kebaikan-kebaikannya, untuk bisa kita resapi kebijaksanaannya. Perjodohan dengan apapun yang Tuhan berikan, hanya satu kunci kebahagiaanya, yaitu syukuri yang telah kita dapati. Tentu satu hal yang perlu difahami adalah, tidak serta merta Tuhan mempertemukan apapun saja dihadapan kita, tanpa kita terlebih dahulu mengusahakannya. Saat kita diperjodohkan sementara dengan kesusahan, mengertilah dengan nurani, bahwa Tuhan masih mau menguji kita, bayangkan jika Tuhan sudah cuek dengan kita,? Saat kita dijodohkan dengan musibah, fahamilh dengan budi pekerti, bahwa semua dari Allah dan akan kembali kepada Allah, “innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun”. Selalu berkhusnudzon, insya allah kita terhindar dari kebuntuan-kebuntuan, terlepas dari cengkraman kegalauan-kegaluan yang seharusnya tidak kita harapkan. Yakin saja, Tuhan akan menjawab keyakinan kita, Kata Allah dalam Hadits qudsy nya “ana ‘indza dhonni ‘abdiiby” Aku (kata allah) bersama dengan keyakinan hambku, kalau kita pesimis, kepesimisan itulah yang akan kita dapati, kalau kita optimis dan berusaha mewujudkan rasa optimis itu, yakinlah, jalan kemudahan pasti mengiringi.
2. Perjodohan Sedekah
Semoga panjang lebar penggambaran diatas mampu mensketsa tingkat pemahaman kita tentang perjodohan itu sendiri. Sekarang aku ingin menulis tentang perjodohan sedekah. Tidak hanya aktifitas individu yang diperjodohkan, aktifitas sosial religi seperti sedekah pun Tuhan menjodohkan kita. Perjodohan itu tentu melingkupi dimensi ruang dan waktu. Mungkin anda pernah punya niatan ingin sedekah saat ada sedikit rezeki, tapi entah karena aktifitas yang terlalu padat, sehingga rasanya tak ada waktu untuk sekedar membagi sedekah. Contoh lain niatan sudah ada, tapi saat kita cari-cari untuk yang bisa kita kasih sedekah terkadang tidak ketemu-ketemu, atau malah ada yang punya lebih rezeki yang notabennya itu bukan milik kita, harta orang lain, kita malah tidak terfikirkan untuk mensedekahkan sebagai bentuk pensucian harta yang kita punya. Atau saat ada niatan ingin sedekah, eh ternyata ada seseorang yang dating yang membutuhkan bantuan materi misalnya. Atau kita ada donasi untuk dibagikan, teman bercerita bahwa tetangganya ada yang lagi dalam kesulitan. Sedekah atau berbagi apa saja bisa karena kita merasa, melihat atau mendengar. Merasa perlu dibantu maka kita bantu, kita melihat ketidakberdayaan dan kita mampu menolang, usahakan untuk menolong, terakhir, meski hanya kita mendengar dari cerita teman, tetapi teman itu tak mampu mambantu, saat itu juga kita bisa bantu, kenapa hanya berpangku tangan, lepaslah tangan, bantulah yang kesusahan.
1. Jodoh Universal
Pernah belanja ke pasar tradisional? Atau bagi orang Surabaya pernah beli sepatu di pasar blauran? Atau begini, anda pasti pernah beli Laptop, Peralatan elektronik, atau computer di HI Tech mall? Handphon lah, anda pasti pindah dari satu toko ke toko lain untuk mencari-cari handphone yang ingin anda miliki? Saya rasa salah satu aktifitas tersebut pernah anda alami. Bagaimana anda memilih Laptop A, atau HP A ditoko X, padahal Type HP atau laptop yang sama juga ada ditoko Y. Masalah harga? Bisa jadi, atau meski harga sama anda tetap memilih di toko X ? itu terkadang tidak mampu kita jelaskan dengan kata-kata, pun tak mampu dideskripsikan dengan tulisan-tulisan. “ya ndak ngerti, pokoknya lebih Sreg aja beli disini”, mungkin itu jawaban yang sering kita munculkan. Kesesuaian dengan hati, apakah itu bukan perjodohan. Satu lagi contoh, kalau misalnya kita beli sepatu di blauran atau toko-toko didaerah lain yang model penyebaran tokonya sama seperti di blauran Surabaya. Berpuluh-puluh toko sepatu berjajar tanpa jarak. Saat kita berjalan kenapa kita berhenti pada Toko X, padahal secara type, model, harga sama dengan toko Y maupun ditoko Z? fenomena tersebut lebih sering sulit kita jelaskan, hanya kesesuaian hati dan pikiran yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal ini bisa berlaku dalam segala laku aktifitas yang kita jalani. Sopir angkot sebutlah demikian, suatu waktu pada jam dan detik tertentu melaju di depan sebuah gang, lantas ada yang melambaikan tangan, bisakah adegan tersebut diterka-terka sebelumnya oleh si sopir angkot, atau bisakah kita mencoba mengutak-atik dan memperhitungkan pusat pertemuan itu?, meski adegan sederhana, saya rasa itu adalah faktor perjodohan yang tidak bisa kita prediksikan, faktor perjodohan yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Saya ulangi lagi kalimat pada baris pertama tulisan ini, ”Tidak ada sebuah pertemuan yang terjadi tanpa izin Tuhan, Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi tanpa skenario dan campur tangan Tuhan, sekecil apapun suatu adegan yang kita perankan tidak mampu kita perhitungkan sebelumya”. Perjodohan tidak melulu kita dipertemukan dengan belahan jiwa atau pemegang tulang rusuk kita. Itu adalah sebagian bentuk perjodohan yang di takdirkan Tuhan, lantas kita kira segala pertemuan dan adegan bukan perjodohan yang telah teratur juga?.Satu lagi masalah pekerjaan misalnya, bagi sebagian kita yang telah berusaha melamar kerja dan menjemput nafkah, kita masukkan surat lamaran pada beberapa perusahaan, kita kirim email ke Perusahaan ini ke Perusahaan itu, kesana dan kemari, orang bisa menyebutnya gambling, siapa tau luput yang ini dapet yang itu. Gambling itu yaa kalau boleh dibahasakan, sederhananya adalah perjodohan yang belum dipertemukan, dan kita punya effort yang besar dan berusaha untuk menemukan. Kita datang diundang interview di Perusahaan ini dan itu, tapi ternyata adakalanya kita yang kurang mantap untuk melanjutkan tanda tangan kontrak, ada juga perusahaannya yang belum menerima spesifikasi individu kita, siapa yang bisa menyangka? Siapa yang bisa mengira? Alih-alih kita sudah yakin bisa diterima, eh ternyata ada yang kurang memenuhi syarat perusahaan, atau klasifikasi kemampuan kita cukup tinggi dibandingkan yang diminta perusahaan. Di kesempatan yang lain, ternyata kita dipanggil oleh perusahaan A, untuk menjalani tes spesifikasi, dan pada akhirnya kita diterima, hal ini siapa juga yang bisa mengidentifikasinya? Bukankah hal ini juga perjodohan kita dengan perusahaan?. Setali tiga uang, Bisnis misalnya, ada orang yang pertama kali nyoba bisnis A ternyata menghadapi kesulitan, terus ia usahakan sambil nyari bisnis lain, ketemulah bisnis B, tanpa disangka dan tanpa di nyana, lebih cepatlah perkembangan bisnis B ini. Seiring berjalannya waktu bisnis inilah yang menjadi besar, dan berkembang pesat, bukankah ini juga perjodohan kita dengan bisnis?.
Banyak hal yang bisa kita fahami, banyak pelajaran yang bisa kita renungi, banyak kasus yang dapat kita ambil ilmunya. Tuhan menggelarkan semua kejadian untuk kita cari maknanya, untuk kita aplikasikan kebaikan-kebaikannya, untuk bisa kita resapi kebijaksanaannya. Perjodohan dengan apapun yang Tuhan berikan, hanya satu kunci kebahagiaanya, yaitu syukuri yang telah kita dapati. Tentu satu hal yang perlu difahami adalah, tidak serta merta Tuhan mempertemukan apapun saja dihadapan kita, tanpa kita terlebih dahulu mengusahakannya. Saat kita diperjodohkan sementara dengan kesusahan, mengertilah dengan nurani, bahwa Tuhan masih mau menguji kita, bayangkan jika Tuhan sudah cuek dengan kita,? Saat kita dijodohkan dengan musibah, fahamilh dengan budi pekerti, bahwa semua dari Allah dan akan kembali kepada Allah, “innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun”. Selalu berkhusnudzon, insya allah kita terhindar dari kebuntuan-kebuntuan, terlepas dari cengkraman kegalauan-kegaluan yang seharusnya tidak kita harapkan. Yakin saja, Tuhan akan menjawab keyakinan kita, Kata Allah dalam Hadits qudsy nya “ana ‘indza dhonni ‘abdiiby” Aku (kata allah) bersama dengan keyakinan hambku, kalau kita pesimis, kepesimisan itulah yang akan kita dapati, kalau kita optimis dan berusaha mewujudkan rasa optimis itu, yakinlah, jalan kemudahan pasti mengiringi.
2. Perjodohan Sedekah
Semoga panjang lebar penggambaran diatas mampu mensketsa tingkat pemahaman kita tentang perjodohan itu sendiri. Sekarang aku ingin menulis tentang perjodohan sedekah. Tidak hanya aktifitas individu yang diperjodohkan, aktifitas sosial religi seperti sedekah pun Tuhan menjodohkan kita. Perjodohan itu tentu melingkupi dimensi ruang dan waktu. Mungkin anda pernah punya niatan ingin sedekah saat ada sedikit rezeki, tapi entah karena aktifitas yang terlalu padat, sehingga rasanya tak ada waktu untuk sekedar membagi sedekah. Contoh lain niatan sudah ada, tapi saat kita cari-cari untuk yang bisa kita kasih sedekah terkadang tidak ketemu-ketemu, atau malah ada yang punya lebih rezeki yang notabennya itu bukan milik kita, harta orang lain, kita malah tidak terfikirkan untuk mensedekahkan sebagai bentuk pensucian harta yang kita punya. Atau saat ada niatan ingin sedekah, eh ternyata ada seseorang yang dating yang membutuhkan bantuan materi misalnya. Atau kita ada donasi untuk dibagikan, teman bercerita bahwa tetangganya ada yang lagi dalam kesulitan. Sedekah atau berbagi apa saja bisa karena kita merasa, melihat atau mendengar. Merasa perlu dibantu maka kita bantu, kita melihat ketidakberdayaan dan kita mampu menolang, usahakan untuk menolong, terakhir, meski hanya kita mendengar dari cerita teman, tetapi teman itu tak mampu mambantu, saat itu juga kita bisa bantu, kenapa hanya berpangku tangan, lepaslah tangan, bantulah yang kesusahan.
Minggu, 03 Februari 2013
1, 2, 3, . . . . . . 10
Satu "Goresan" yang dipesan seorang kawan untuk bisa dituliskan
Semoga kisahmu tetep aman kawan, terkendali dan abadi untuk dijalani,,,
"TRIBUTTE TO CAK SOLER"
Mumpung dunia milik berdua, tak ewangi "ngecet temboke",,, hhehehe
Satu Satu.
Kalau aku terpana pada akhlakmu,
Dan buat fokusku tertuju padamu,
Itu memang “iya”,
Dua Dua. .
Kalau kehadiranmu buat aku terpesona
Itu tak salah
Tiga Tiga . . .
Kalau hatiku sampai tertelikung mencinta,
Itu benar adanya,
Satu, Dua, Tiga
Aku tak berdusta,
Kau memang luar biasa,
Empat . . . .
Tak kusangka kau berikan ruang dan waktu yang tepat,
Dengan cermat kau beri jalan yang bisa untuk ku lewat
Semoga kisahmu tetep aman kawan, terkendali dan abadi untuk dijalani,,,
"TRIBUTTE TO CAK SOLER"
Mumpung dunia milik berdua, tak ewangi "ngecet temboke",,, hhehehe
Satu Satu.
Kalau aku terpana pada akhlakmu,
Dan buat fokusku tertuju padamu,
Itu memang “iya”,
Dua Dua. .
Kalau kehadiranmu buat aku terpesona
Itu tak salah
Tiga Tiga . . .
Kalau hatiku sampai tertelikung mencinta,
Itu benar adanya,
Satu, Dua, Tiga
Aku tak berdusta,
Kau memang luar biasa,
Empat . . . .
Tak kusangka kau berikan ruang dan waktu yang tepat,
Dengan cermat kau beri jalan yang bisa untuk ku lewat
Selasa, 25 Desember 2012
TENTANG SEBUAH PARAMETER
Pertama kali aku mengenal istilah parameter adalah saat aku bersentuhan dengan ilmu alam dengan seabreg variabel pembatas. Kimia, ya mungkin saat itulah aku mulai mengenal lebih dalam tentang sebuah parameter. Parameter memiliki beberapa makna dan penafsiran yang berbeda. Ada yang menyebut batasan, ukuran, acuan, nilai, tolok ukur, takaran dsb. Tergantung dari segi mana kita memaknai dan berdasarkan latar belakang apa kita menggunakan istilah "parameter" itu sendiri.
Dalam berbagai hal, kita dibenturkan dengan banyak parameter, dan parameter-parameter itu sebenarnya membuat kita semakin hari semakin bingung. Parameter kuliah, parameter performance kerja, parameter sukses, parameter bahagia, parameter kaya dan parameter-parameter lainnya.
Setelah dipikir-pikir, menurut bayanganku, parameter hanyalah sebuah titik bias yang di paksakan menjadi jelas. Begini maksudnya, yang disebut parameter, pada dasarnya tidak bisa di buat pasti, karena didunia ini tidak ada hal yang bisa dipastikan. Karena tidak ada satu orangpun yang bisa memberikan jaminan kepastian. Jangankan jaminan untuk 5 tahun kedepan, jaminan setahun, sebulan, sehari, sejam bahkan semenit yang akan datang pun tidak ada yang mampu menafsirkan.
Parameter itu adalah variabel yang disepakati. Tetapi, dalam setiap hal kesepakatan itu bukanlah persetujuan yang mutlak. Kesepakatan itu ada karena faktor kuantitas - mayoritas. Karena banyak yang setuju tentang satu hal, maka persetujuan itulah yang dijadikan sebagai acuan. Dalam bahasa lain itulah yang disepakati sebagai parameter. Kalaupun kita tidak sepakat tidak ada masalah, asal ketidaksepakatan itu dibarengi dengan argumentasi logis. Itulah yang terjadi saat ini, semua manusia bersitegang menerka, mengajukan penawaran pola berfikirnya, membuat batasan semaunya, dimana tiap orang yang ditemuinya harus mengikuti parameter yang diajukannya.
Ada deretan kalimat yang aku cuplik dari salah satu tulisan penyair tanah air, yang aku anggap itu adalah guruku, Emha ainun nadjib, itulah dia. "dan kini saya terjebak di kurungan peradaban, di mana manusia mengimani kehebatan, bertengkar memperebutkan kekuasaan, mentuhankan harta benda, bersimpuh kepada kemenangan, serta memompa-mompa diri untuk mencapai suatu keadaan yang mereka sangka keunggulan". Perasangkaan terhadap keunggulan hanyalah sebuah hasil fiktif yang ompong, boleh jadi secara kasat mata terlihat unggul tetapi batinnya kosong. Jadi jangan terjebak mengikuti lontaran ukur dari orang lain.
KENYATAAN DI PEDALAMAN
“Hidupku, hidupmu, hidup kita semua sangat
singkat, secepatnya bermanfaat, lalu minggat menuju akhirat, semoga
kelak mendapat limpahan nikmat, di sisi Tuhan sang Pemilik Jagat”
Bahkan saat awal kami para pengurus kran sedekah menginjakkan kaki dimadura (tempat yayasan yang dinaungi KranSedekah), kami nggak percaya dengan kenyataan yang ada. Salah satu saja contohnya, SPP yang di bayarkan kesekolah Hanya Rp. 60.000 untuk SATU TAHUN. Coba liat ditahun 2012 yang mau habis, SPP Rp 5000/bulan bisa untuk membiayai apa??? Aku tercengang saat mendengarkan, mungkin anda pun terperangah saat menyaksikan. Bukan soal sok-sok an kita mengabarkan, hanya sekedar berbagi untuk saling mengingatkan. “Hei manusia kota, yang katanya kalian paling susah, hei makhluk Tuhan di metropolitan , yang katanya hidup nya jauh dari kecukupan, hei para pemuda yang selalu mencari alasan untuk bilang hidupnya selalu dihimpit kesulitan, bagaimana pendapatmu mengenai hal ini, bagaimana menurutmu saat kau menyaksikan biaya pendidikan yang sangat minim? Bagaimana? Bagaimana? Apakah cukup parah, separah keadaan yang mereka rasakan, apakah fasilitas pendidikan yang kita dapatkan masih terlampau kurang? Andalah yang telah merasakan. Bagi mereka, para pelajar muda di pedalaman pamekasan, minimnya fasilitas bukan berarti membuat mereka menjadi malas”.
Bahkan saat awal kami para pengurus kran sedekah menginjakkan kaki dimadura (tempat yayasan yang dinaungi KranSedekah), kami nggak percaya dengan kenyataan yang ada. Salah satu saja contohnya, SPP yang di bayarkan kesekolah Hanya Rp. 60.000 untuk SATU TAHUN. Coba liat ditahun 2012 yang mau habis, SPP Rp 5000/bulan bisa untuk membiayai apa??? Aku tercengang saat mendengarkan, mungkin anda pun terperangah saat menyaksikan. Bukan soal sok-sok an kita mengabarkan, hanya sekedar berbagi untuk saling mengingatkan. “Hei manusia kota, yang katanya kalian paling susah, hei makhluk Tuhan di metropolitan , yang katanya hidup nya jauh dari kecukupan, hei para pemuda yang selalu mencari alasan untuk bilang hidupnya selalu dihimpit kesulitan, bagaimana pendapatmu mengenai hal ini, bagaimana menurutmu saat kau menyaksikan biaya pendidikan yang sangat minim? Bagaimana? Bagaimana? Apakah cukup parah, separah keadaan yang mereka rasakan, apakah fasilitas pendidikan yang kita dapatkan masih terlampau kurang? Andalah yang telah merasakan. Bagi mereka, para pelajar muda di pedalaman pamekasan, minimnya fasilitas bukan berarti membuat mereka menjadi malas”.
KETABAHAN JALANAN
"kita akan menumukan banyak hal diluar nalar, tapi akan menjadi
semakin "cetaarr" jika kita pintar dalam menakar. Sesuatu tidak mampu
dilogika, tapi justru akan membuat anda semakin membahana. Jadi jalanan
akan membuat anda semakin cetar membahana"---
Kehidupan lebih banyak dialami dijalanan, pelajaran paling nyata ada dijalanan, pengalaman yang bernilai itu saat kita melakukan perjalanan. Dijalan, bukan teoritis yang kita hadapi, tapi soal realistis yang banyak kita temui, jalanan bukan dunia perencanaan, jalanan adalah dimensi nyata dalam kehidupan. Banyak hal yang bisa dihikmahi, banyak ilmu yang mampu kita tadabburi, seabreg wacana yang kita pelajari, banyak katagori yang kita temui.
Orang2 berkumpul, bergaul, tanpa tebeng aling-aling. Mereka berdiskusi, sharing informasi, membicarakan masalah dan menemukan solusi. Kalangan Mahasiswa biasanya paling demen diwarkop ngelakuin hal semacam ini. Diwarung kopi misalnya, tak jarang ide tercetus, informasi berhembus, kemesraan tanpa putus, kesedihan tergerus, kesumpekan terhunus. Jalanan tempat paling fresh melepas penat, itu menurut sudut pandangku.
Rabu, 24 Oktober 2012
Tuhan, "Isma'il kan" Diri Kami
"Mereka" rindu kematianMenunggu golok dikubangan penyembelihan
"Mereka" tidak pantas disebut bernasib malang, "mereka" senang
Karena sebentar lagi, nyawa nya diantar menemui Tuhan
Jangan pikir "mereka" bersedih
Jangan berprasangka "mereka" susah
Jangan mengira "mereka" tak kuasa
Kambing "mengembik" bukan karena jiwanya terusik
Suara Sapi "meng-eluh" bukan karena ia merasa rapuh
Mungkin saja itu adalah ringkihan dzikir yang terdengar samar,
Atau gemuruh takbir yang semakin getir
Mereka sadar yang akan ia hadapi esok adalah tukang jagal,
Bahkan semenitpun tak kuasa ia persiapkan mental,
Hanya keyakinan, bahwa kematian nya, lebih cepat mengantarkan pada "kehidupan yang lebih kekal" dan menemui yang Maha kekal
"Mereka" diikat, pandang memandang, satu sama lain saling menguatkan,
"Mereka" tahu, nyawanya dijemput demi sebuah kemuliaan,
Kematian "mereka" cukup disegani
Suara takbir disekelilingnya, Menguatkan tenggorakannya, Mengelabuhi rasa sakitnnya,
------------------------------------
Hari raya qurban tak bisa lepas begitu saja dari tinta sejarah Ismail 'alaihissalam
Kerelaan dirinya pada ayahnya
Didasari sebuah keikhlasan,
Lebih karena tingginya ketawadhu'an
Semata karena kepatuhan mendalam pada perintah Tuhan
Duh Gusti,
Jikalau Engkau izinkan,
Alirkan darah Ismail pada jiwa kami
Salurkan ketabahan Ismail dalam batin kami
Anugerahkan mental kepatuhan Ismail pada diri kami
Duh Gusti,
Mohon ampun pada-Mu
Sembelih segala laku buruk kami
Sembelih sifat pendosa kami
Sembelih tingkah takabbur kami
Sembelih kerdilnya pikiran Kami
Sungguh kami tak memiliki kemampuan apa-apa tanpa Kuasamu yang mengiringi
Wallahu a'lam bisshowwab
"Selamat berqurban"
MLNG, 24 Okt 2012
Langganan:
Postingan (Atom)










